HUKUM TAHMIDH (ANAL SEKS) TERHADAP ISTERI

HUKUM TAHMIDH (ANAL SEKS) TERHADAP ISTERI

Penulis Asy-Syaikh Jamal Bin Abdurrahman Ismail dan dr.Ahmad Nida

Sesungguhnya Allah Subhaanahu wa ta’ala telah menghalalkan bagi seorang suami untuk menggauli istrinya dengan sekehendaknya. Akan tetapi, Allah Subhaanahu wa ta’ala tidak menjadikan hal itu secara mutlak, diperbolehkan bagi lelaki mendatangi istri pada kemaluannya dalam keadaan ia suci dan terhindar dari haid (menstruasi) serta nifas, baik ia mendatanginya dari arah depan maupun dari arah belakang, yang penting ia tidak melewati kemaluan istrinya sampai pada duburnya, sebagaimana Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda kepada para wanita Anshar,

” صِمَامًا وَاحِدًا “

“Lubang yang satu.“[1] Maksudnya adalah kemaluan saja.

Dan beliau Shallallaahu ’alaihi wasallam­­ juga bersabda,

” أَقْبِلْ وَ أَدْبِرْ وَ اتَّقِ الدُّبُرَ وّ الْحَيْضَةَ “

“Mengarahlah dari depan dan belakang, jauhilah dubur (lubang pantat) dan haid.“[2] Maksudnya adalah setubuhilah istrimu dari arah depan atau belakang dan jauhilah dubur serta jauhilah masa haid dari kemaluan juga. Dan beliau Shallallaahu ’alaihi wasallam juga bersabda,

” اِئْتِهَا عَلَى كُلِّ حَالٍ إِذَا كَانَ ذَلِكَ فِي الْفَرْجِ “

“Datangilah ia (istri) pada setiap keadaan, jika itu (dilakukan) pada kemaluan.“[3]

Sebagian orang-orang yang menyimpang tidak menjauhi persetubuhan dengan istri mereka dari duburnya, bukan karena tidak takut akan peringatan Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam, tetapi dikarenakan lemahnya iman dan jiwa. (Padahal) ancaman yang keras tidak akan mengecualikan mereka dari perbuatan dosa besar yang keji (tersebut).

Dari Sa’id bin Yassar, beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Ibnu Umar:

” مَا تَقُولُ فِى الْجَوَارِى حِينَ أُحَمِّضُهُنَّ؟”، قَالَ : “وَمَا التَّحْمِيضُ؟” فَذَكَرْتُ الدُّبُرَ فَقَالَ : “هَلْ يَفْعَلُ ذَلِكَ أَحَدٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟ “

“Apa pendapatmu tentang kaum istri, apakah dilakukan tahmidh kepada mereka?” Ibnu Umar menjawab: “Apa itu tahmidh?” Kemudian, disebutkan dubur, lalu Ibnu Umar berkata: “Apakah salah seorang dari muslimin melakukan hal itu?” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ad-Darimi di dalam musnadnya)

Hukum Islam atas Pelaku Anal Seks

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu ’anhu, ia berkata: telah bersabda Rasulullah Shallallaahu ’alaihi wasallam:

” مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِى دُبُرِهَا “

“Dilaknatlah siapa saja yang mendatangi istri pada duburnya.”[4]

Dan beliau Shallallaahu ’alaihi wasallam juga bersabda,

“مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوِ امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ”

“Siapa saja yang menyetubuhi isteri yang sedang haid atau istri pada duburnya, atau seorang dukun maka sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad.“[5]

Ini berlaku bagi siapa saja yang menganggap halal perkara tersebut. Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya, dari kakeknya bahwa Nabi Shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda,

“الَّذِى يَأْتِى امْرَأَتَهُ فِى دُبُرِهَا هِىَ اللُّوطِيَّةُ الصُّغْرَى”

“Orang yang mendatangi istrinya pada duburnya maka ia adalah pelaku gay yang kecil.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad)

Beliau Shallallaahu ’alaihi wasallam juga bersabda menyamakan hal tersebut dengan gay,

” لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى رَجُلٍ أَتَى رَجُلاً أَوِ امْرَأَةً فِى الدُّبُرِ “

“Allahk tidak akan melihat kepada seorang lelaki yang mendatangi lelaki atau wanita pada duburnya.“[6]

Shahabat Umar Radhiallaahu ’anhu ditanya tentang hal itu, lalu menjawab,

“هَلْ يَفْعَلُ ذَلِكَ أَحَدٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ؟”

“Apakah salah seorang dari muslimin melakukan hal itu?”[7]

Hadits ini sanadnya shahih dan konteksnya sharih (jelas) akan pengharaman hal tersebut.

سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ إتْيَانِ الْمَرأةِ فِيْ دُبُرِهَا؟، فَقَالَ : “سّفِلّتَ سَفِلَ اللَّهُ بِكَ أَمَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ : أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُم بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِّن الْعَالَمِينَ

Ada seorang lelaki bertanya kepada Ali tentang mendatangi istri pada duburnya, lalu beliau menjawab: “Engkau rendah, semoga Allahk merendahkanmu.[8] Tidakkah engkau mendengar firman Allah Subhaanahu wa ta’ala : “(Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu , yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?” (QS. Al-A’raf [7]: 80)

Tidak ada yang melakukan perbuatan tersebut, kecuali orang yang memasuki kehidupan rumah tangga yang bersih dan suci sambil membawa (adat) jahiliah yang kotor serta kebiasan yang menyimpang dan diharamkan, atau orang yang menjadi korban dari tontonan-tontonan film yang keji.

SUMBER :

Buku SEKS BEBAS UNDERCOVER (Halaman 88-92), Penulis Asy-Syaikh Jamal Bin Abdurrahman Ismail dan dr.Ahmad Nida, Penerjemah Syuhada abu Syakir Al-Iskandar As-Salafi, Editor Medis dr.Abu Hana, Penerbit Toobagus Publishing, Bandung. Ditulis kembali untuk http://kaahil.wordpress.com
[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi.

[2] Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad.

[3] Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad.

[4] Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, yaitu di dalam Shahiih Al-Jaami’ dengan no. 5865.

[5] Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, yaitu didalam Shahiih Al-Jaami’ dengan no. 5918.

[6] Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan An-Nasai, sanadnya hasan, dan juga oleh Ibnu Majah dengan nomor 1923.

[7] Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Darimi di dalam Musnadnya.

[8] Ruuhul Ma’aanii karya Al-Alusi jilid 2.

http://kaahil.wordpress.com/2009/08/15/hukum-tahmidh-anal-seks-terhadap-isteri/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: