MENGENAL AJARAN TAREKAT SHUFIYYAH (BAG.2)

MENGENAL AJARAN TAREKAT SHUFIYYAH (BAG.2)
Manhaj
Ditulis oleh Terjemah : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal
Minggu, 03 Januari 2010 12:11

Syaikh Muhammad bin Rabi’ Al-Madkhali Hafizahullah

Berkata Abu Zahrah rahimahullah dalam menjelaskan sebab munculnya tashawwuf dan sumber-sumber yang merupakan dasar pemikirannya:

“Tashawwuf berasal dari dua sumber yang berbeda lalu berkumpul menjadi satu:

Sumber pertama: fokusnya sebagian ahli ibadah dari kaum muslimin kepada sikap zuhud dalam kehidupan dunia dan memutuskan diri darinya dengan cara fokus dalam ibadah. Hal ini bermula pada masa Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dimana sebagian sahabat ada yang bertekad untuk shalat tahajjud dimalam hari dan tidak tidur, diantara mereka ada yang ingin berpuasa dan tidak berbuka, diantara mereka ada yang memutuskan hubungan dengan kaum wanita (enggan menikah,pen).

Tatkala beritanya sampai kepada Nabi Shallallahu alaihi wasallam , Beliau bersabda:

ما بال أقوام يقولون كذا وكذا ,لكني أصوم وأفطر وأصلي وأنام ,وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني (متفق عليه)

“ada apa dengan kaum yang mengatakan begini dan begitu, namun sesungguhnya aku berpuasa dan juga berbuka, dan aku shalat dan juga tidur, dan aku menikahi para wanita, maka barangsiapa yang membenci sunnahku maka dia bukan dari umatku.”

(muttafaq alaihi)

Sungguh Al-qur’an telah melarang dari bid’ah rahbanah (memutuskan diri dari dunia dan enggan menikah) firman-Nya:

ورهبانية ابتدعوها

“dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah”

(QS. Al-Hadid: 28)

Namun setelah berpindahnya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menuju rafiq a’la (alam baka bersama orang-orang yang mulia,pen) dan banyak manusia yang masuk kedalam islam yang berasal dari berbagai keyakinan …….. semakin bertambah pula orang-orang yang bersikap zuhud yang berlebih-lebihan dalam bersikap zuhud terhadap dunia dan kenikmatannya………….. dan diantara barisan tersebut, tashawwuf mendapat respon tatkala menemukan lahan subur tersebut.

Sumber kedua: termasuk yang membawa jiwa kedalam pemikiran ini (tashawwuf) adalah munculnya ditengah-tengah kaum muslimin dua pemikiran, salah satunya filsafat dan yang lainnya keyakinan-keyakinan yang diyakininya (sebelum islam).

Adapun pemikiran pertama: adalah pemikiran kaum isyraqiyyin dari kelompok filsafat, mereka adalah kelompok yang berpandangan bahwa mengenal (Allah) akan terhunjam kedalam jiwa dengan cara olah raga rohani dan pengaturan jiwa.

Adapun pemikiran kedua: pemikiran hulul ilahi ( Allah menempati makhluknya) kedalam jiwa manusia, atau bercampurnya Ilah dengan manusia. Pemikiran ini awal kali muncul, menyusup kedalam beberapa kelompok yang menisbahkan dirinya kepada Islam dengan cara dusta, pada awal permulaan ketika bercampurnya kaum muslimin dengan kaum nashara, pemkiran ini muncul pada kelompok Saba’iyyah (Kaum Syi’ah pengikut Abdullah bin Saba’, pen), dan sebagian Al-Kisaniyyah, kemudian Al-Qaramithah dikalangan sebagian kelompok Bathiniyyah, kemudian nampak pada warna akhirnya dikalangan sebagian kaum Shufiyyah.

Disana ada faktor lain yang menguatkan munculnya berbagai pemikiran Shufiyyah adalah keyakinan bahwa nash-nash hukum –yaitu nash Al-qur’an dan Sunnah- memiliki makna yang zahir dan makna yang batin………… dan nampak bahwa kaum shufiyyah telah mendapatkan faedah dan meminjam pemikiran tersebut dari kelompok Batiniyah.

(kitab: Ibnu Taimiyyah, Abu Zahrah, hal:197-198)

Demikianlah, bercampurnya berbagai macam pemikiran dalam sikap zuhud tersebut membuka pintu munculnya pemikiran hululiyah ( Allah menempati makhluknya) kemudian wihdatul wujud (Allah menyatu dengan makhluknya, yang dalam bahasa jawa diistilahkan dengan “Manunggaling kawulo gusti”, pen), kemudian bercampurnya kaum tashawwuf dengan pemikiran tersebut yang muncul dalam islam dengan semakin kuat (pemikiran ini) diabad keempat dan kelima. kemudian semakin mencapai puncaknya,semakin jauh dan jauh dari bimbingan Al-qur’an dan sunnah yang suci,sehingga kaum tashawwuf menyebut orang-orang yang mengikuti Al-qur’an dan sunnah sebagai pengikut syari’at dan pengikut amalan zahir, dan mereka menyebut diri-diri mereka sebagai pengikut hakekat dan pengikut amalan batin.

(Haqiqatus Shufiyyah, Muhammad bin Rabi’ Al-Madkhali hafizahullah: 18-21)
sumber:www.salafybpp.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: