MENGENAL AJARAN TAREKAT SHUFIYYAH (BAG.1)

MENGENAL AJARAN TAREKAT SHUFIYYAH (BAG.1)

Ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah
Sabtu, 19 Desember 2009 00:35

Shufiyyah

Mengapa mereka diberi nama dengan nama ini?

Sesungguhnya kata “shufiyyah” diambil dari bahasa Yunani “shufiya” yang bermakna hikmah (bijak). Adapula yang berkata: dinisbhakan kepada pakaian shouf (yang terbuat dari bulu domba) dan ini pendapat yang lebih mendekati kebenaran sebab pakaian shouf ini menjadi tanda kezuhudan seseorang, dan dikatakan: bahwa hal itu menyerupai Al-Masih Isa bin Maryam Alaihis Salaam.

Telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Al-fatawa (11/7) dari Muhammad bin Sirin bahwa telah sapai kepadanya berita tentang satu kaum yang mereka suka memakai pakaian shouf, maka Beliau berkata: sesungguhnya satu kaum menggunakan pakaian shouf, kata mereka: bahwa mereka menyerupai Al-Masih bin Maryam, dan petunjuk Nabi kita Shallallahu Alaihi Wasallam lebih kami sukai, adalah Nabi Shallallahu alaihi wasallam memakai pakaian dari katun (kapas) dan yang lainnya.

SEJARAH MUNCULNYA KAUM SHUFIYYAH

Adapun sejarah munculnya shufiyyah, sesungguhnya lafaz shufiyyah tidak dikenal dimasa para sahabat, bahkan tidak dikenal pada mas tiga kurun yang dimuliakan. Namun menjadi masyhur setelah tiga kurun pertama tersebut.

(majmu’ fatawa:11/5)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan bahwa awal munculnya kaum shufiyyah adalah dari negeri Basrah di Irak. Dahulu di Basrah dikenal adanya sikap berlebihan dalam zuhud dan ibadahnya yang tidak dikenal hal itu di negeri-negeri yang lain.

(Al-fatawa:11/6)

BAGAIMANA AWAL MULA PERKEMBANGAN KAUM SHUFIYYAH

Pada awal munculnya kaum Shufiyyah, belum terdapat perbedaan yang mencolok pada kaum shufiyyah, namun hanya terbatas pada sikap berlebihan dalam zuhud dan konsisten dalam berdzikir kepada Allah dan perasaan takut yang berlebihan ketika berdzikir, yang sampai menyebabkan pingsan, atau meninggal tatkala mendengar ayat-ayat berisi ancaman , seperti kisah Zurarah bin Aufa, Beliau seorang qadhi di Basrah, ketika Beliau membaca dalam shalat subuh:

فَإِذَا نُقِرَ فِي النَّاقُورِ

” Apabila ditiup sangkakala”

(QS.Al-Mudatstsir:8)

Maka beliau terjatuh lalu meninggal.”

Demikian pula kisah Abu Jahr Al-A’ma yang ketika Saleh Al-Murri membacakan kepadanya al-qur’an maka dia meninggal.Diantara mereka ada beberapa orang yang pingsan disaat mendengar bacaan al-qur’an.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tatkala mengomentari hal tersebut:

“Para sahabat tidaklah demikian keadaan mereka.Tatkala muncul gejala tersebut, hal ini diingkari para sahabat dan Tabi’in seperti Asma’ Bintu Abi Bakar, Abdullah bin Zubair, Muhammad bin Sirin ……….. sebab mereka menganggap hal tersebut bid’ah yang menyelisihi yang diketahui dari bimbingan para sahabat.”

(Al-fatawa:11/6)

Berkata Ibnul Jauzi dalam talbis Iblis:

“Tashaffuf merupakan satu metode yang awal mulanya adalah bersikap zuhud secara utuh. Lalu kemudian orang-orang yang menisbahkan diri kepadanya memudah-mudahkannya dengan mendengar nyanyian dan menari. Orang-orang yang menghendaki akhirat dari kalangan awam tertarik dengan cara mereka disebabkan mereka menampakkan sikap zuhud, demikian pula pencari dunia tertarik kepada mereka karena melihat mereka yang senang bersantai ria dan bermain.”

(Talbis Iblis:161)

Alih Bahasa : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal

sumber:www.salafybpp.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: