Ada Apa Dengan Poligami…?

Ada Apa Dengan Poligami…?

Syari’at poligami adalah sebuah syari’at yang sangat agung, yang mengandung mashlahat dan kebaikkan yang sangat banyak bagi laki-laki, perempuan dan yang lainnya. Sebuah syaria’t yang Allah syariatkan bagi hamba-hambanya sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada mereka. Tetapi sungguh sebagian mereka tidak mengerti, tidak memahami, bahkan menjadi musuh dari syari’at yang mulia ini. Oleh karena itulah pada kesempatan yang singkat ini alangkah baiknya kita berusaha memahami syari’at ini walaupun masih jauh dari kesempurnaan.

Apa yang dimaksud dengan poligami

Alangkah baiknya kalau kita awali dengan berusaha memahami apa yang dimaksud dengan poligami, yang dimaksud dengan poligami adalah apabila seorang suami menikah dengan lebih dari satu orang istri, tapi tidak lebih dari empat orang istri. Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

“ Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. “ (Qs. An Nisa’ : 3)

Salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Harits Bin Qais Bin ‘Umairah al-Asadi mengatakan : “Aku masuk islam, sedangkan aku mempunyai delapan istri. Lalu aku menyebutkan hal itu kepada Nabi, maka beliau bersabda : “ Pilihlah empat diantara mereka.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Katsir Berkata dalam tafsirnya, Sanadnya bagus).

Hukum poligami

Adapun tentang hukum poligami, kalau kita lihat penjelasan para ulama berdasarkan dalil-dalil yang ada tentang hukum poligami berkisar antara sunnah dan mubah (boleh). Adapun kalau ditinjau dari pribadi masing-masing yang akan melakukan poligami maka seperti hukum seseorang yang akan menikah, ada yang kondisinya wajib, sunnah, mubah, makruh bahkan ada yang haram.

Yang Hukumnya wajib, apabila ada salah seorang laki-laki yang sudah beristri masih khawatir jika dia tidak poligami akan menyebabkan dirinya terjerumus dalam perbuatan maksiat seperti zina, selingkuh dan sejenisnya maka jika kondisinya seperti ini, wajib bagi dia untuk poligami. Baik kekhawatiranya itu dilatarbelakangi diri suami, seperti seorang suami yang mempunyai kelebihan dalam kemampuan seksual yang besar sehingga satu istri baginya tidaklah cukup, atau dilatarbelakangi istri yang tidak bisa melayani dengan baik dengan segala faktornya atau bukan dari suami dan istri, tetapi dari faktor luar seperti fitnah syahwat yang luar biasa yang membuat dirinya khawatir takut terjatuh dalam perbuatan haram.

Yang hukumnya sunnah (dianjurkan) apabila ada salah seorang laki-laki yang telah beristri yang mempunyai harta yang cukup untuk poligami, mampu berlaku adil, dan pada asalnya dirinya tidak khawatir terjatuh dalam perbuatan haram kalau tidak poligami dan ada seorang muslimah perlu ditolong seperti janda misalnya kemudian dia menikahinya dalam rangka ta’awun terhadap janda tersebut.

Yang hukumnya mubah (boleh) apabila ada salah seorang laki-laki yang telah beristri berkeinginan melakukan poligami dan ia cukup mampu untuk melakukannya.

Yang hukumnya makruh, apabila ada salah seorang laki-laki yang telah beristri berkeinginan untuk melakukan poligami sedangkan ia belum memilki kemampuan yang cukup sehingga akan kesulitan dalam berlaku adil dan memberi nafkah.

Yang hukumnya Haram, apabila ada salah seorang laki-laki yang telah beristri berpoligami atas dasar niat yang buruk, seperti untuk menyakiti isteri pertama dan tidak menafkahinya, atau ingin mengambil harta wanita yang akan dipoligaminya, atau tujuan-tujuan buruk lainnya.

Hikmah poligami

Banyak kaum muslimin yang tidak memahami agamanya dengan baik dan benar, terlebih-lebih terhadap syariat yang satu ini sehingga sebagian dari mereka tidak sedikit yang bersikap dengan sikap yang tidak pantas dilakukan sebagai seorang yang mengaku dirinya seoarang muslim terhadap syariat Allah, ditambah lagi sebagian mereka termakan oleh propaganda orang yang tidak suka pada islam dengan menyudutkan syariat yang mulai ini. Semoga dengan kita ketengahkan diantara hikmah disyariatkan poligami membuat kita semua sadar tentang sikap wajibnya menerima syariat Allah secara keseluruhan termasuk syariat poligami. Dintara hikmah poligami adalah :

Pertama : Terkadang poligami darurat harus dilakukan, misalnya isteri berusia lanjut atau sakit dan mempunyai anak dari hasil pernikahan mereka, kalau suami hanya memiliki istri yang ini tentu dia tidak akan mendapatkan kesucian (farj/kemaluannya) darinya. Disaat dia ingin mempertahankan pernikahan maka dia khawatir dirinya terjatuh dalam pernbuatan zina karena tidak mampu menahan keinginannya melakukan hubungan intim, jika dia menalak (mencerai) isterinya dia masih mencintainya atau tidak tega (merasa kasian) terhadap istrinya atau dengan sebab menceraikannya dapat mengakibatkan memisahkan sang istri dengan anaknya, maka dilema ini tidak ada solusinya kecuali dengan dihalalkannya poligami.

Kedua : Pernikahan adalah sebuah sebab terjalinnya ikatan di antara manusia, Allah Ta’ala menjadikannya sebagai gandengan dari nasab

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ المَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

“ Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (hubungan kekeluargaan melalui pernikahan –pent) “ (Qs. Al Furqan : 54 )

Maka poligami mampu mengikat banyak keluarga dan menghubungkan antara satu dengan lainnya. Inilah salah satu sebab yang mendorong Nabi shallallahu alaihi wasallam menikahi banyak wanita.

Ketiga: Konsekuensi (poligami) akan melindungi sejumlah wanita, menegakkan hajat kebutuhan mereka (nafkah dan tempat tinggal), banyak anak keturunan, semua ini adalah hal yang dituntut oleh syariat

Keempat : Sebagian laki-laki belum sempurna menekan syahwatnya jika hanya memiliki satu istri, padahal dia seorang yang memiliki ketaqwaan dan kesucian serta takut melakukan perzinaan, hanya saja dia ingin menyalurkan keinginannya ditempat yang halal. Maka suatu rahmat Allah Ta’ala pada hambanya dengan menghalalkan mereka untuk melakukan poligami dengan cara yang benar.

Kelima : Terkadang setelah pernikahan diketahui kemandulan istrinya sehingga sepintas solusinya adalah talak (cerai), tapi kalau dia mendapatkan kesempatan untuk menikah lagi tentu seorang yang berakal tidak akan berkata : “ menceraikannya lebih afdhal (utama) “

Keenam : Terkadang suami mesti banyak melakukan perjalanan sehingga dia butuh untuk mendapatkan kesucian jiwanya selama berada ditempat lain.

Ketujuh : Banyaknya perperangan dan disyariatkannya jihad fi sabilillah adalah sebab yang menjadikan semakin sedikitnya kaum laki-laki dan banyaknya kaum wanita sementara kaum wanita membutuhkan pelindung, maka tidak ada jalan selain poligami

Kedelapan : Sering sekali seorang laki-laki tertarik kepada seorang wanita (dan sebaliknya) disebabkan agama dan akhlaqnya, maka pernikahan itulah jalan syar’i untuk mempertemukan keduanya.

Kesembilan : Sering terjadi cekcok diantara suami istri sehingga keduanya bercerai, lalu mantan suaminya menikah lagi dengan wanita lain kemudian selang beberapa lama dia ingin kembali menikahi istrinya. Disaat seperti ini pensyariatan poligami datang memberikan solusi pasti untuknya.

Kesepuluh : Umat islam sangat membutuhkan banyaknya keturunan untuk menguatkan barisan mereka guna bersiap-siap menyerukan jihad terhadap kufar, ini tidak akan tercapai kecuali dengan memperbanyak pernikahan dan memperbanyak anak.

Kesebelas : Termasuk hikmah poligami seorang istri diselain waktu gilirannya mendapatkan kesempatan untuk berkonsentrasi menuntut ilmu, membaca Al Qur’an dll. Hal ini kebanyakkan tidak mudah dilakukan oleh wanita yang mempunyai suami yang tidak berpoligami

Kedua belas : Termasuk hikmah poligami menambahkan rasa kasih sayang antara suami istri, sebab setiap kali tiba giliran yang satu maka dia akan rindu bertemu dengan yang satunya lagi demikan halnya istrinya yang menunggu.

Masih banyak lagi hikmah poligami, dimana seorang muslim tidak boleh mempunyai keraguan sama sekali bahwa syariat Allah Azza Wajalla mempunyai banyak hikmah yang besar, sedangkan hikmah yang terbesar adalah merealisasikan perintah Allah Azza wajalla dengan segala ketundukan.

Yang perlu perhatikan bagi orang yang mau poligami

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan bagi orang yang akan menjalankan sunnah ini, supaya tujuan yang dia inginkan dari poligami didapatkan, dari kehidupan yang bahagia, harmonis dan tujuan yang lainnya, diantaranya adalah :

1. Mengetahui syarat poligami, yaitu :

* Jumlahnya, bahwa poligami hanya dibatasi empat saja
* Keadilan. Islam mensyaratkan adil didalam bolehnya poligami, yaitu dalam hal tempat tinggal, pakaian, makanan, minuman, bermalam, muamalah dan segalanya, sesuai dengan keadaan dan kesepakatan.
* Mampu memberi nafkah kepada para istri-istrinya
* Tidak menghimpun wanita-wanita yang dilarang menikahinya sekaligus, seperti dua wanita bersaudara, wanita dengan bibinya.

2. Mempersiapakan ilmu yang berkaitan dengan pernikahan dan poligami
3. Bicara dengan istri pertama. Saya tidak mengatakn izin kepada istri pertama adalah sebuah syarat dalam poligami, tidak. Tetapi ini adalah bentuk kebaikan dalam muamalah dengan seorang istri. Disamping itu menjadi sebab poligaminya berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang ia inginkan.

Semoga Allah memberikan kepada kita semua kemudahan dalam menjalankan syari’at Allah termasuk syariat poligami.

ditulis oleh : Abu Ibrahim Abdullah

http://bilahatirindupoligami.wordpress.com

” Siapa Bilang Semua Wanita Hanya Suka Madu dan Tidak Suka di Madu “

Oleh : Abu Ibrahim ‘Abdullah Bin Mudakir

Pembicaraan tentang tema poligami adalah sebuah pembahasan yang sangat menarik, diantaranya pembicaraan tentang sebagian wanita yang siap, ridha bahkan mendukung suaminya untuk poligami. Yang jika kita mendengar sebagian dari kisah mereka menimbulkan kekaguman dari sikap yang mulia yang mereka perlihatkan. Jadi keliru kalau ada orang yang mengatakan “ mana ada wanita yang mau dimadu “, ternyata tidak sedikit wanita yang ridha, siap bahkan ada yang mendukung dan mencarikan suaminya istri lagi. Mungkin ada diantara kita yang bertanya-tanya masa sih ada wanita yang siap untuk di madu…?! alasan mereka kira-kira apa yah?. insya Allah sebagian kisah-kisah dibawah ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan anda.

Alangkah baiknya kita awali dengan sebuah kisah tentang istri Nabi Ibrahim Alaihis Sallam yang bernama Sarah yang meminangkan Hajar untuk suaminya. ketika Sarah merasakan apa yang berkecamuk dihati Nabi Ibrahim yang menginginkan anak, karena setelah lama menikah dengannya mereka belum dikaruniakan anak. Akhirnya menikahlah Nabi Ibrahim dengan Hajar dan dari pernikahan itu lahirlah seorang anak yang bernama Ismail. Lihatlah bagaimana keridhaan Sarah yang menerima kehadiran istri yang lain disamping suaminya.

Lalu mari kita beranjak pada sebuah kisah tentang istri-istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Salah seorang istri Rasulullah yang bernama Ummu Habibah Binti Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anha berkata : “ Wahai Rasulullah, nikahilah saudaraku, putri Abu Sufyan.” Nabi bersabda : “ Haah…, apakah engkau senang dengan hal itu?” Ummu Habibah berkata, “ Ya, (agar) aku tidak bersendirian dengan dirimu. Sesungguhnya orang yang paling aku sukai untuk menemaniku dalam berbuat kebaikkan adalah saudariku.” Nabi bersabda : “ Sesungguhnya yang demikian itu tidaklah halal bagiku…” (HR. Bukhari)

Lihatlah wahai saudaraku, Istrinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Ummu Habibah menawarkan Rasulullah untuk menikah lagi, yaitu dengan saudaranya agar saudaranya mendapatkan kebaikkan. Bahkan Ummu Habibah senang akan hal itu. Akan tetapi Rasulullah menjelaskan termasuk pernikahan yang dilarang adalah mengabungkan dua wanita saudara sekaligus.

Dan lihatlah kisah istri-istri Rasulullah yang lainya yang ridha ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikah lagi, setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menikah lagi dengan wanita yang lain (istri yang baru saja dinikahi) para istri yang lama mendoakan keberkahan atas pernikahan tersebut.

Atau sebuah kisah, seorang istri yang menawarkan kepada suaminya untuk menikah lagi. Suatu hari istrinya berkata kepada suaminya, Bukankah kamu beriman kepada syari’at Allah?

Suaminya menjawab, Iya

Istrinya berkata : Bukankah kamu seorang yang beriman (mukmin)?

Suaminya berkata, Iya

Istrinya berkata, “Saya memiliki seorang tetangga wanita yang miskin tidak ada yang menjaganya. Dia takut fitnah (kejelekan) akan menimpa dirinya. Saya juga takut keadaan dan kebutuhan akan memaksanya melakukan dosa dan perbuatan keji, dan penyebabnya adalah aku dan kamu karena kita membiarkannya, kita hanya memikirkan diri kita sendiri.”

Suaminya berkata, “Apa yang engkau inginkan?”

Istrinya menjawab, “Saya ingin wanita ini mendampingimu bersamaku, hatiku kasihan melihat keadaan anak-anaknya.”

Suaminya berkata, “Ini sungguh aneh.!”

Istrinya berkata, “ Kenapa heran bukankah Allah Ta’ala berfirman : “

فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ

“ Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat…“ (Qs. An Nisa’ : 3)

Kalau tejadi sesuatu yang tidak diharapkan pada wanita ini –semoga tidak terjadi- dan ia membuat murka Rabbnya, maka bahayanya kembali kepada kita juga, dengan rusaknya ia dimasyarakat tempat saya, kamu dan anak-anak kita hidup.”

Suaminya berkata, “ Akan tetapi, ia mempunyai anak-anak.”

Istrinya berkata, “ Tidakkah kamu pernah mendengar hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Sahl Bin Sa’ad Radiyallahu ‘anhu. “Saya dan orang yang memelihara anak yatim disurga seperti ini, dan beliau mengisyaratkan dengan dari telunjuk dan tengah, serta memisahkan diantara keduanya.”

Suaminya berkata : “Benar”

Istrinya berkata, “ Kalau begitu bertawakkalah kepada Allah. Rezeki itu ditangan Allah. Semoga Allah menjadikan kita kaya karena mereka.”

Akhirnya sang suami menerima penjelasan istrinya dan menikahi wanita tersebut.

Atau sebuah kisah salah seorang suami yang bertanya kepada istrinya,

“ Wahai istriku, apa yang membuat kamu mau untuk dipoligami.”

Istrinya menjawab, Karena Aku mencintai Allah, kemudian aku mencintai mas, aku ingin mas bahagia. Dan aku mencintai saudari-saudari muslimah yang belum pada menikah.

Sang suamipun tertegun mendengar jawaban sang istri. Yang tidak dia sangka akan menjawab dengan jawaban seperti itu.

Atau sebuah kisah salah seorang ummahat yang tinggal didaerah jakarta, lagi asyik bebicara dengan salah seorang ummahat yang lain tentang tema poligami, sampai pada perkataannya, Iya nih Umm ana juga kemarin berusaha mencarikan untuk suami ana, dan sudah ada yang mau, awalnya akhwat ini mau tapi terakhir di menggagallkannya karena alasan mai’syah (kerjaan). Padahal kami niatnya mau nolong akhwat (janda) tersebut.

Lihatlah wahai saudaraku bagaimana sikap mereka yang siap, ridha bahkan ada yang mendukung dan mencarikan untuk suaminya teman madu baginya. Dan dari kisah-kisah tersebut dan kisah-kisah yang lainnya kita bisa ambil pelajaran diantara sebab sebagian wanita menerima, siap dan ridha untuk dipoligami bahkan ada yang mendukung dan aktif mencarikan calon istri lagi untuk suaminya, diantaranya adalah :

1. Ketundukkan mereka yang sempurna terhadap syariat Allah. Kecintaan mereka kepada Allah yang membuat mereka menerima seluruh syari’at Allah, termasuk syari’at poligami. Allah Ta’ala berfirman

فَانكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَة

“ Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. “ (Qs. An Nisa’ : 3)

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالًا مُبِينًا

“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Qs. al-Ahdzab : 36)

2. Mencintai suami dan mengingnkan kebahagiannya, sebagian istri tahu terhadap kebutuhan sang suami, baik itu yang berkaitan dengan dirinya, atau karena faktor istrinya, atau bukan karena faktor keduanya hanya saja agar suaminya lebih terjaga dari fitnah syahwat yang luar biasa dahsyatnya, dari kesadaran inilah sebagian wanita yang karena mencintai suaminya, ingin suaminya bahagia, tidak ingin suaminya jatuh keperbuatan maksiat yang membuat dirinya siap, ridha bahkan mendukung suaminya untuk poligami.
3. Menginginkan saudarinya mendapatkan kebaikkan dari suaminya, sehingga dirinya siap, ridha dan mendukung untuk suaminya menikah lagi. Agar temannya atau sahabatnya mendapatkan kebaikan sebagaiama yang ia dapatkan, dengan mempunyai suami, hidup bahagia bersama suami yang baik, dan dari kebaikkan-kebaikkan yang lainnya.
4. Kepedulian dan rasa tanggung jawab sebagian wanita, cintanya terhadap saudari-saudarinya yang belum pada menikah atau telat menikah atau terancam tidak pernah merasakan indahnya pernikahan, atau kepada para janda yang membuat dirinya tergerak untuk ridha, siap bahkan mendukung dan menganjurkan suaminya untuk poligami.
5. Dikarenakan sebagian wanita ingin mencari solusi dari problema rumah tangganya, oleh karena itulah sebagian wanita ridha dan siap untuk dipoligami karena dia tahu poligami adalah solusi yang tebaik untuk problema rumah tangganya. Dikrenakan misalnya istri tertimpa penyakit sehingga tidak bisa melayani suaminya dengan baik, atau terkena penyakit kanker rahim sehingga diangkat rahimnya menyebabkan ia tidak bisa punya anak atau problema lainnya.
6. Dikarenakan Sebagian wanita ingin ikut andil memperjuangkan agama Allah, diantaranya syariat poligami yang mulia ini, membuat mereka siap dan ridha bahkan mendukung dan membantu untuk mencarikan calon istri ke 2,3 dan ke 4 untuk suaminya.

Itu diantara hal-hal yang membuat sebagian wanita menerima, siap dan ridha kalau dirinya dimadu (dipoligami). Semoga Allah memperbanyak wanita shalihah yang tunduk terhadap syari’at Rabbnya termasuk syari’at poligami. Dan mengaruniakan kita istri shalihah.

http://bilahatirindupoligami.wordpress.com/2011/10/13/siapa-bilang-semua-wanita-hanya-suka-madu-dan-tidak-suka-di-madu/#more-28

مصيبة العالم الإسلامي – اليوم – أخطر من مصيبة احتلال اليهود لفلسطين !

المحرر : عبد الله بن زيد الخالدي – التاريخ : 2010-04-17 05:58:26 – مشاهدة ( 271 )
فضيلة العلامة المحدث محمد ناصر الدين الألباني : الآن الجماعات الإسلامية المعاصرة مختلفون في طريقة معالجة المشكلة التي يشكوا منها كل الجماعات الإسلامية ، وهي مشكلة الذل الذي ران عليهم ، وكيف السبيل للخلاص منه !؟ هنالك طرق :

• الطريقة الأولى – والمثلى ، التي لا ثاني لها – : وهي التي ندعو المسلمين إليها – دائمًا وأبدًا – وهي : فهم الإسلام فهمًا صحيحًا ، وتطبيقه ، وتربية المسلمين على هذا الإسلام المصفى ؛ تلك هي سنة رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ؛ كما ذكرنا – ونذكر دائمًا وأبدًا – حينما بدأ رسول الله بأصحابه ؛ إذ دعاهم للإيمان بالله ورسوله ، وعلمهم أحكام الإسلام وأمرهم بتطبيقها .

وحينما كانوا يشكون إليه ما يصيبهم من ظلم المشركين وتعذيبهم إياهم ! وكان يأمرهم بالصبر ، وأن هذه سنة الله في خلقه ، أن يُحارب الحق بالباطل ، وأن يُحارب المؤمنون بالمشركين .

وهكذا الطريق الأولى لمعالجة هذا الأمر الواقع ؛ وهو العلم النافع والعمل الصالح .

• هناك حركات ودعوات أخرى كلها تلتقي على خلاف الطريقة الأولى والمُثلى – التي لا ثاني لها – وهي : اتركوا الإسلام الآن جانبًا من حيث وجوب فهمه ، ومن حيث وجوب العمل به ! الأمر الآن أهم من هذا الأمر ؛ وهو ـن نجتمع ، وأن نتوحد على محاربة الكفار !

سبحان الله ! كيف يمكن محاربة الكفار من دون سلاح !؟ كل إنسان عنده ذرة من عقل إذا لم يكن لديه سلاح مادي ؛ فهو لا يستطيع أن يحارب عدوه المسلح ليس بسلاح مادي واحد ، بل بأسلحة مادية كثيرة ! فإذا أراد أن يحارب عدوه هذا المسلح ، وهو غير مسلح ؛ ماذا يقال له !؟ أحاربه دون أن تتسلح ، أم تسلح ثم حارب !؟

!الجواب – الذي لا خلاف فيه – : تسلح ثم حارب ، هذا من الناحية المادية .

لكن ؛ من الناحية المعنوية : الأمر أهم بكثير من هذا إذا أردنا أن نحارب الكفار ؛ فسوف لا يمكننا أن نحارب الكفار بأن ندع الإسلام جانبًا ! لأن هذا خلافُ ما أمر الله – عز وجل – ورسوله – صلى الله عليه وسلم – المؤمنين في آيات كثيرات ؛ منها قوله تعالى : ( وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ) . [ سورة العضر ] .

( إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ) : نحن – الآن – بلا شك في خُسر ؛ لماذا !؟

لأننا لم نأخذ بما ذكر الله – عز وجل – من الاستثناء ( إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ) .

نحن – الآن – نقول : آمنا بالله ورسوله ، ولكن حينما ندعو المسلمين المتحزبين والمجتمعين المتكتلين على خلاف دعوة الحق إلى الرجوع إلى الكتاب والسنة ، يقولون هذا ندعه – الآن – جانبًا ! الأمر أهم هو محاربة الكفار !

فنقول لهم : بسلاح !؟ أو بدون سلاح !؟ ، فالحرب لابد لها من سلاحين :

• السلاح الأول : المعنوي ، وهم يقولون : دعوا السلاح المعنوي جانبًا ، وخذوا بالسلاح المادي ! ثم لا سلاح مادي ؛ ذلك لأن هذا غير مستطاع بالنسبة للأوضاع التي نحكم بها الآن ليس فقط من الكفار الذين يحيطون بنا من كل جانب ، بل من جانب بعض الحكام الذين يحكموننا ! فنحن لا نستطيع – اليوم – رغم أنوفنا : أن نأخذ الاستعداد بالسلاح المادي ؛ هذا لا نستطيعه ، فنقول : نريد أن نحارب بالسلاح المادي ، وهذا لا سبيل إليه !السلاح المعنوي هو الذي بين أيدينا ( فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ ) [ محمد : 19 ] . العلم ؛ ثم العمل به في حدود ما نستطيع .

هذا الذي نقوله بكل بساطة متناهية : دعوا هذا جانبًا ! هذا مستطاع ، ونُؤمر بتركه جانبًا ! وذاك غير مستطاع ؛ فنقول : يجب أن نحارب ! وبماذا نحارب !؟ خسرنا السلاحين معًا ، السلاح المعنوي لا يُغني ؛ نقول نؤجله ! لأن هذا ليس وقته وزمانه السلاح المادي لا نستطيعه ؛ فصرنا خرابًا يبابًا ضعفاء في السلاحين : المعنوي و المادي .

وإذا ما رجعنا إلى العهد الأول الأنور ، وهو عهد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ؛ هل كان عنده سلاح مادي !؟

الجواب : لا ! بماذا إذن كان مفتاح النصر بالسلاح المادي أم بالسلاح المعنوي !؟

الجواب : لا شك أنه كان بالسلاح المعنوي ، وبه بدأت الدعوة في مثل تلك الآية ( فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ ) .

إذن العلم بالإسلام قبل كل شيء ثم تطبيق هذا الإسلام في حدود ما نستطيع .

بماذا نبدأ !؟

نبدأ قبل كل شيء بالأهم فالمهم ؛ وبخاصة إذا كان الأهم ميسورًا وهو السلاح المعنوي وهو فهم الإسلام فهمًا صحيحًا ، وتطبيقه تطبيقًا صحيحًا ، ثم السلاح المادي إن كان ميسورًا .

أخيرًا : أقول : ( وَقُلِ اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ) . [ التوبة : 105 ] .

لكن أكرر : إن العمل لا ينفع إلا إذا كان مقرونًا بالعلم النافع ؛ والعلم النافع إنما هو : قال الله ، قال رسوله ، قال الصحابة ؛ كما قال ابن القيم – رحمه الله – :

العلم قال الله قال رسوله … قال الصحابة ليس بالتمويه
ما العلم نصبك للخلاف سفاهة … بين الرسول وبين رأي فقيه
كلا ولا جحد الصفات ونفيها … حذار من التعطيل و التشبيه

مصيبة العالم الإسلامي – اليوم – أخطر من مصيبة احتلال اليهود لفلسطين ! مشكلة العالم الإسلامي اليوم أنهم ضلوا عن سواء السبيل ، أنهم ما عرفوا الإسلام الذي به تتحقق سعادة الدنيا والآخرة ، وإذا عاش المسلمون في بعض الظروف أذلاء مضطهدين من الكفار والمشركين وقتلوا وصلبوا ثم ماتوا ؛ فلا شك أنهم ماتوا سعداء .

ولو عاشوا في الدنيا أذلاء مضطهدين ! أما من عاش منهم عزيزًا في الدنيا ، وهو بعيد عن فهم الإسلام ، كما أراد الله – عز وجل – ورسوله ؛ فهذا سيموت شقيًا ، وإن عاش سعيدًا في الظاهر .

إذن – بارك الله فيكم – العلاج ( فَفِرُّوا إِلَى اللهِ ) افهموا ما قال الله ، وما قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – واعملوا بما قال الله ، وقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وبهذا أنهي الجواب على ذاك السؤال .

من رسالة : [ إعلام سفهاء الأحلام بأن مقارعة الحكام ليست سبيل الرجوع إلى الإسلام ] ، وأصلها : مفرغ من سلسلة [ الهدى والنور ] .

http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=917

MENGENAL ALLAH

Pengenalan seorang Hamba terhadap Allah

al akh Abu Ibrahim Abdullah

Sebuah kewajiban yang paling pokok dan mendasar bagi seorang hamba adalah mengenal Rabbnya, mengenal Allah yang telah menciptakannya, memelihara dan memberi rezeki kepadanya, Yang tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melaikan Dia.

Wajib bagi seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar yang membuahkan rasa cinta kepada Allah, takut kepada Nya dan beribadah kepadaNya semata. Berkata Syaikh Muhammad Aman Al Jami Rahimahullah : “ Yaitu pengenalan seorang hamba kepada Allah yang mewajibkan mencintaiNya Subhanahu wata’ala, takut kepadaNya, mengagungkanNya, mengagungkan perintahNya dan syari’atNya. Pengenalan yang mewajibkan muraqabatullah (merasa dalam pengawasan Allah Ta‘ala) dan takut kepadaNya serta puncak cinta kepadaNya, dikarenakan cinta kepada Allah adalah ruh iman, dan iman jika kosong dari cinta kepada Allah seperti jasad yang mati (tanpa ruh –ed)” (Syarhu Tsasatil Usuul : 21).

Dan pengenalan seorang hamba kepada Allah dengan cara membaca ayat – ayatNya yang menjelaskan tentang keesaan Allah didalam rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma (nama-nama) dan sifatNya. Begitu juga dengan memikirkan ciptaanNya karena itu semua menunjukkan tentang kebesaran dan keagunagn Allah yang menciptakannya.

Pengenalan seorang hamba kepada Allah tidaklah terlealisasi kecuali dengan mengimani empat hal :

Pertama : Beriman kepada wujud (keberadaan) Allah

Sesungguhnya menyakini wujud (keberadaan) Allah adalah perkara fitrah yang Allah fitrahkan kepada manusia sejak lahir. Sebagian besar manusia mengakui wujud (keberadaan) Allah dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali sedikit seperti orang atheis itupun karena kesombongan mereka padahal hati mereka menyakini.

Adanya langit, bumi, matahari bulan dan makhluk lainnya serta keteraturan alam semesta menunjukkan ada yang mencipta dan yang mengaturnya, Dialah Allah yang mencipta dan mengatur alam semesta ini.

Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“ Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (yang menciptakan) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? “ (Qs. Ath Thur : 35)

Dan Allah Ta’ala berfirman :

لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا الليْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“ Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Qs. Yasin : 40)

Kedua : Beriman kepada rububiyah Allah

Yaitu menyakini bahwasannya Allah adalah Rabb segala sesuatu, pemilik, pencipta, pemberi rezeki yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi manfaat dan mudharat (bahaya), yang segala urusan berada ditanganNya. Dan bahwasannya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada sekutu bagi Nya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“ Dan tidak ada suatu binatang melatapun dilangit dan dibumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya” (Qs. Hud : 6)

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ

“ Kepunyaan Allahlah langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya “ (Qs. Al Maidah : 120)

Ketiga : Beriman kepada uluhiyah Allah

Yaitu mengesakan Allah didalam ibadah kita, tidaklah kita beribadah melainkan hanya kepada Nya. Seluruh ibadah kita dzahiran (lahiriah) dan Bathinan (hati), seperti doa, menyembelih, nadzar, khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakal hanya kita peruntukkan kepada Allah semata.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

Keempat : Beriman kepada asma (nama-nama) dan sifat Allah

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifatNya, dengan menetapkan nama-nama dan sifat Allah yang Allah dan Rasul Nya tetapkan dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makhlukNya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)

Pengenalan seorang hamba kepada Allah adalah dengan merealisasikan keimanan terhadap empat hal diatas, beriman kepada wujud (keberadaan) Allah, rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma dan sifatNya. Dan wajib atas seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar sehingga dia bisa beribadah kepada Allah diatas basihrah (ilmu) dan tidak boleh bodoh atau melalaikan dari mengenal kepada Allah.

sumber;www.tauhiddansyirik.wordpress.com

Sudahkah Anda Berpoligami ?

Fadhilatus Syaikh Saleh As-Suhaimi Hafizhahullah Ta’ala

Pertanyaan yang disertai tanda tangan:

“Bagaimana cara memberi pengertian kepada seorang istri jika aku ingin menikah yang kedua kali, namun dia tidak menerimanya dan berkata: kecuali jika kamu menceraikan aku atau setelah aku mati, atau kamu bersabar hingga saya menjadi tua, dan saya memiliki lima anak?”

Syaikh Saleh As-Suhaimi Hafizhahullah Ta’ala menjawab:

جزاك الله خيرا على هذا السؤال وعلى التوقيع يبدو أن التوقيع نابع من الإرهاب الذي يمارس عليك من قبلها

أقول –وفقني الله وإياك وجميع المسلمين- إن هذه الأفكار نابعة من تقليد الغرب مسألة منع التعدد والتي فرض في بعض بالبلاد الإسلامية فرضا فيجيزون اتخاذ الأصدقاء والصديقات ويحرمون التعدد هذا في بعض البلاد الإسلامية ناهيك عن بلاد الكفر والغرب فيجيز القانون عندهم اتخاذ صديقة لو تستصحب أية صديقة وتقبلها في الشارع العام ليس هناك من معترض عليك ,لكن أن تتزوج بالثانية فهذه عندهم جريمة نكراء لا تغتفر,

أقول: كل هذا ناتج من تبعيتنا للغرب, ومن تشبه بقوم فهو منهم فإذا وجدت في نفسك القدرة الجسدية والمادية والقدرة على العدل فحطم هذه الأغلال وتجاوز هذه العقبات وأحي هذه السنة

وأذكر أن شيخنا الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله تعالى إذا جاءه أحد من أوائل أسئلته بعد أن يسأل عن صحته ودينه وأموره, يسأله : هل أنت معدد, كم زوجة عندك؟

فإن قال: ما عندي إلا واحدة حثه على التعدد, وقال: إن الله بدأ بالتعدد فقال ((فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع )) إن وجدت في نفسك القدرة على العدل ويلوم الذين يخافون من التعدد .

ولما قال له أحد الإخوة يداعبه : يا شيخنا أنا موحد ,طبعا لا يقصد الموحد من التوحيد ,يقصد أنه ليس عنده إلا واحدة ,قال رحمه الله: هذا توحيد الخائفين –رحمة الله عليه وسائر علمائنا –

فيا إخوان إياكم والتبعية للإفرنج فإن هذا من تبعية الإفرنج ومن تبعية الغرب ,فعلى المسلم أن يكون متبعا لهدي النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم لا متبعا لتعليم الغرب

وليس إذن الزوجة شرطا في زواجك لكن كما قلت: يجب أن تراعي أمرا وهي قدرتك على تنفيذ الشروط وهي العدالة والقدرة الجسدية والمادية

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يوفقني وإياكم لما يحبه ويرضاه وصلى الله عليه وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه

“Jazakallahu khaer atas pertanyaan dan tanda tangan ini, nampaknya tanda tangan ini muncul disebabkan adanya teror yang sedang kamu hadapi dari istrimu.

Saya berkata –semoga Allah memberi taufik kepadaku, kepadamu dan seluruh kaum muslimin- bahwa sesungguhnya pemikiran ini muncul dari sikap ikut- ikutan terhadap barat, permasalahan tidak bolehnya berpoligami yang merupakan masalah yang dijadikan sebagai ketetapan disebagian negara islam, dimana mereka membolehkan mengambil pasangan lelaki dan wanita, lalu mereka mengharamkan poligami, ini terjadi di sebagian negara islam, terlebih lagi dinegara-negara kafir dan barat, undang-undang mereka membolehkan seorang lelaki mengambil pasangan wanita yang mana saja, lalu menciumnya di tengah jalan, tidak akan ada yang melarang kamu melakukannya. Namun kalau kamu menikah yang kedua, maka menurut mereka ini merupakan tindakan kejahatan besar.

Saya berkata: ini semua muncul disebabkan karena sikap ikut-ikutan kita kepada barat, dan siapa yang menyerupai satu kaum maka dia termasuk mereka. Jika engkau mendapati dirimu mampu baik dari sisi jasad maupun materi, dan mampu berbuat adil maka lepaskan belenggu-belenggu ini dan lewati setiap tantangan lalu hidupkan sunnah ini.

Saya mengingat Syaikh kami Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah Ta’ala jika ada seseorang datang kepada Beliau, diantara pertanya-pertanyaan yang Beliau ajukan pertama kali kepada orang tersebut setelah bertanya tentang kesehatan, agama, dan urusannya, Beliau bertanya: apakah engkau berpoligami? Berapa istrimu?. Jika dia menjawab: saya tidak memiliki istri kecuali satu ,maka Beliau menganjurkannya untuk berpoligami, dan mengatakan: Sesungguhnya Allah Memulai dengan poligami dalam firman-Nya:

((فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع ))

“Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.” (QS.An-Nisaa:3)

“Nikahilah wanita yang baik diantara kalian dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat.”

Hal itu jika engkau merasa punya kemampuan untuk berbuat adil, dan Beliau mencela orang-orang yang takut berpoligami.

Dan jika ada salah seorang ikhwan bergurau kepada Beliau: Wahai Syaikh kami, saya muwahhid (bertauhid), tentu maksudnya bukan mentauhidkan Allah Ta’ala, namun dia memaksudkan bahwa dia tidak memiliki istri kecuali satu, maka Beliau rahimahullah menjawab: ini tauhid-nya para penakut.-semoga Allah merahmati Beliau dan seluruh para ulama kita-.

Wahai ikhwan, hendaknya kalian menjauhi sikap ikut-ikutan terhadap bangsa Eropa, sebab ini merupakan sikap ikut- ikutan terhadap Eropa dan barat. Wajib bagi seorang muslim mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam , bukan mengikuti barat.

Dan bukanlah izin dari istri (pertama) menjadi syarat untuk kamu berpoligami, namun seperti yang aku katakan: wajib bagimu memperhatikan satu perkara yaitu kemampuan kamu untuk menjalankan syarat- syaratnya yaitu berbuat adil dan memiliki kemampuan jasmani dan materi.

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb pemilik Arasy yang Agung agar memberi taufik kepadaku dan kepada kalian kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam serta berkah tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

sumber;
http://www.salafybpp.com/muslimah/117-sudahkah-anda-berpoligami.html

Homoseks

Dosa Besar Itu Bernama Homoseks

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah al Jakarty

Sungguh sangat mengkhawatirkan ketika perbuatan maksiat tersebar di negeri ini, apalagi sebuah dosa besar yang bernama liwath (homoseks). Maka bisa hancur negeri ini. Hal ini diperparah dengan adanya orang-orang (baca: syaithan dari jenis manusia) yang notabene berlatar belakang mempunyai pendidikan Islam…!!! (iya… tapi belajar dari orang-orang sesat seperti di kampus IAIN atau belajar di Amerika) yang membolehkannya. Maka penjelasan di bawah ini diantara beberapa bahaya perbuatan liwath (homoseks) yang sudah seharusnya seorang muslim berhati-hati terhadap dosa besar ini.

Pertama : Liwath (homoseks) adalah sebuah dosa yang belum pernah dilakukan oleh sebuah kaum sebelum kaum Nabi Luth. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menimpakan adzab kepada mereka dengan adzab yang belum pernah diturunkan kepada siapapun karena sangat jeleknya perbuatan mereka dan sangat berbahayanya perbuatan tersebut.

Allah ta’aala berfirman :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu melampiaskan syahwatmu kepada sesama laki-laki, bukan kepada wanita, kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.’” (Al A’raaf : 80-81)

Sampai-sampai seorang khalifah Bani Ummayyah yang membangun Masjid Jami’ Damaskus mengatakan: “Jika seandainya Allah tidak menceritakan kepada kita tentang perbuatan yang dilakukan kaum Nabi Luth, aku tidak menyangka ada seorang laki-laki yang melampiaskan hawa nafsunya (berhubungan badan) kepada laki-laki lain.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/488, cet. Daarul hadits)

Lalu bagaimana sekiranya jika seorang khalifah Bani Ummayah tersebut mengetahui bahwa ada pada zaman ini orang yang membolehkan liwath (homoseks)…!!! Seperti syaithan laki-laki yang bernama Drs. Imam Nakhai (dosen Institute Agama Islam Ibrahimi/IAII) Situbondo, atau M. Khadafi (dosen sosiologi IAIN Sunan Ampel) dua orang ini menjadi pembicara di sebuah seminar yang bertema “Nikah Yes Gay Yes”. Atau seorang syaithan wanita yang bernama Prof. Dr. Siti Musdah Mulia yang membolehkan homoseks .

Mari kita simak perkataan Imam Adz Dzahabi, berkata al Imam Adz Dzahabi rahimahullah : “Sungguh Allah telah mengisahkan kepada kita kisah kaumnya Nabi Luth pada banyak tempat di dalam kitab-Nya (Al Qur’an) yang mulia. Bahwasanya Dia (Allah) telah membinasakan mereka dikarenakan perbuatan busuk mereka. Kaum muslimin dan selain mereka dari orang yang beragama sepakat bahwasanya perbuatan liwath (homoseks) termasuk perbuatan dosa besar.” (Kitab Al Kabaair : 59, cet. Daar Ibnu Hazm)

Adapun tentang adzab yang Allah timpakan kepada kaum Luth dikarenakan perbuatan liwath (homoseks) yang mereka lakukan adalah sebagaimana di dalam ayat-ayat berikut ini.

Allah ta’aala berfirman :

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“ Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar. Yang diberi tanda oleh Rabbmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang dzalim.” (Qs. Hud : 82-83)

Kita berlindung kepada Allah dari Murka dan adzab-Nya. Masihkan ada orang yang termakan pemikiran sesat orang-orang yang membolehkan homoseks…!!!

Kedua : Liwath (homoseks) sebuah dosa besar yang Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam mengkhawatirkan akan menimpa umatnya.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takuti dari umatku adalah perbuatan kaum Nabi Luth.” (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan Syaikh al Albani)

Ketiga: Dosa liwath (homoseks) akan menumbuhkan keenggganan pemuda untuk menikah dan menjadi musnahnya generasi manusia disamping bahaya-bahaya lain seperti tersebarnya kemaksiatan, zina atau menjadi sebab tersebarnya penyakit yang sangat berbahaya, infeksi pada dubur, penyakit tifoid dan disentri, penyakit sifilis, penyakit gonore (kencing darah), herpes, AIDS, dan lainnya.

Keempat: Dosa Liwath adalah sebuah dosa yang pelakunya dilaknat (dijauhkan dari rahmat Allah subhaanahu wa ta’aala).

Sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“….. Terlaknat orang yang menggauli binatang, terlaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth (liwath/homoseks).” (HR. Ahmad dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Kelima : Liwath (homoseks) sebuah dosa besar yang pelakunya dihukum dengan dibunuh.

Dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu dia berkata, bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda:

”Barangsiapa yang kalian temui melakukan perbuatan kaum Luth (liwath/homoseks) maka bunuhlah pelaku dan orang yang menjadi objeknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan dishahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi dan dishahihkan pula riwayat ini oleh al Albani).

Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullaah : “ Sepakat mayoritas shahabat atau seluruh shahabat atas melakukan konsekuensi dari hadits ini. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah : ‘ Para shahabat Rasulullah shalallaahu ‘alahi wassalam tidak berselisih pendapat tentang hukum bunuh bagi orang yang melakukan liwath (homoseks) bagi pelakunya atau orang yang dijadikan objek, akan tetapi berselisih pendapat bagaimana tatacara memberlakukan hukum bunuhnya, sebagian mereka berkata dirajam pakai batu, sebagian lagi berkata dijatuhkan di tempat yang paling tinggi dari sebuah negeri, sebagian mereka berkata dihukum pelaku dan objeknya jika ia ridha (dihomoseks) keduanya dihukum mati dalam keadaan apapun, sama saja sudah pernah menikah ataupun belum pernah menikah, dikarenakan sangat besar dosa pelakunya dan berbahaya jika keduanya berada di komunitas manusia, dikarenakan keberadaan keduanya (pelaku dan objek tersebut) akan membunuh secara maknawi di komunitas manusia dan keutamaan (akhlaq). Dan tidak diragukan binasanya mereka berdua lebih baik dari pada binasanya manusia dan akhlaq mulia.” (Syarh Kitaab al Kabaair, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, pada dosa besar yang ke 21, cet. Daar al Ghadd al Jadiid : 79)

Semoga penjelasan sederhana ini yaitu tentang bahayanya perbuatan liwath (homoseks) membuat kita lebih berhati-hati dari terjatuh kedalam dosa ini dengan menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan kepada dosa ini seperti menunda menikah padahal pada kondisi dirinya sudah sampai wajib untuk menikah atau dengan memandang amrad (anak kecil yang tampan) dengan pandangan syahwat atau bergaul dengan kaum Gay atau dengan belajar atau menerima statement orang (baca: syaithan dari jenis manusia) yang membolehkan homoseks, karena kalau orang sudah tidak menganggap homoseks sebagai kelainan, penyakit dan perbuatan maksiat maka dengan sangat mudah dia akan terjerumus ke dalam dosa itu. Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala menjaga kita semua dan kaum muslimin. Amin

sumber;
http://www.tauhiddansyirik.wordpress.com

Pengenalan seorang Hamba terhadap Allah

Pengenalan seorang Hamba terhadap Allah

al akh Abu Ibrahim Abdullah

Sebuah kewajiban yang paling pokok dan mendasar bagi seorang hamba adalah mengenal Rabbnya, mengenal Allah yang telah menciptakannya, memelihara dan memberi rezeki kepadanya, Yang tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melaikan Dia.

Wajib bagi seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar yang membuahkan rasa cinta kepada Allah, takut kepada Nya dan beribadah kepadaNya semata. Berkata Syaikh Muhammad Aman Al Jami Rahimahullah : “ Yaitu pengenalan seorang hamba kepada Allah yang mewajibkan mencintaiNya Subhanahu wata’ala, takut kepadaNya, mengagungkanNya, mengagungkan perintahNya dan syari’atNya. Pengenalan yang mewajibkan muraqabatullah (merasa dalam pengawasan Allah Ta‘ala) dan takut kepadaNya serta puncak cinta kepadaNya, dikarenakan cinta kepada Allah adalah ruh iman, dan iman jika kosong dari cinta kepada Allah seperti jasad yang mati (tanpa ruh –ed)” (Syarhu Tsasatil Usuul : 21).

Dan pengenalan seorang hamba kepada Allah dengan cara membaca ayat – ayatNya yang menjelaskan tentang keesaan Allah didalam rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma (nama-nama) dan sifatNya. Begitu juga dengan memikirkan ciptaanNya karena itu semua menunjukkan tentang kebesaran dan keagunagn Allah yang menciptakannya.

Pengenalan seorang hamba kepada Allah tidaklah terlealisasi kecuali dengan mengimani empat hal :

Pertama : Beriman kepada wujud (keberadaan) Allah

Sesungguhnya menyakini wujud (keberadaan) Allah adalah perkara fitrah yang Allah fitrahkan kepada manusia sejak lahir. Sebagian besar manusia mengakui wujud (keberadaan) Allah dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali sedikit seperti orang atheis itupun karena kesombongan mereka padahal hati mereka menyakini.

Adanya langit, bumi, matahari bulan dan makhluk lainnya serta keteraturan alam semesta menunjukkan ada yang mencipta dan yang mengaturnya, Dialah Allah yang mencipta dan mengatur alam semesta ini.

Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“ Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (yang menciptakan) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? “ (Qs. Ath Thur : 35)

Dan Allah Ta’ala berfirman :

لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا الليْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“ Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Qs. Yasin : 40)

Kedua : Beriman kepada rububiyah Allah

Yaitu menyakini bahwasannya Allah adalah Rabb segala sesuatu, pemilik, pencipta, pemberi rezeki yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi manfaat dan mudharat (bahaya), yang segala urusan berada ditanganNya. Dan bahwasannya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada sekutu bagi Nya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“ Dan tidak ada suatu binatang melatapun dilangit dan dibumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya” (Qs. Hud : 6)

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ

“ Kepunyaan Allahlah langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya “ (Qs. Al Maidah : 120)

Ketiga : Beriman kepada uluhiyah Allah

Yaitu mengesakan Allah didalam ibadah kita, tidaklah kita beribadah melainkan hanya kepada Nya. Seluruh ibadah kita dzahiran (lahiriah) dan Bathinan (hati), seperti doa, menyembelih, nadzar, khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakal hanya kita peruntukkan kepada Allah semata.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

Keempat : Beriman kepada asma (nama-nama) dan sifat Allah

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifatNya, dengan menetapkan nama-nama dan sifat Allah yang Allah dan Rasul Nya tetapkan dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makhlukNya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)

Pengenalan seorang hamba kepada Allah adalah dengan merealisasikan keimanan terhadap empat hal diatas, beriman kepada wujud (keberadaan) Allah, rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma dan sifatNya. Dan wajib atas seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar sehingga dia bisa beribadah kepada Allah diatas basihrah (ilmu) dan tidak boleh bodoh atau melalaikan dari mengenal kepada Allah.

sumber;
www.tauhiddansyirik.wordpress.com