MENGENAL ALLAH

Pengenalan seorang Hamba terhadap Allah

al akh Abu Ibrahim Abdullah

Sebuah kewajiban yang paling pokok dan mendasar bagi seorang hamba adalah mengenal Rabbnya, mengenal Allah yang telah menciptakannya, memelihara dan memberi rezeki kepadanya, Yang tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melaikan Dia.

Wajib bagi seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar yang membuahkan rasa cinta kepada Allah, takut kepada Nya dan beribadah kepadaNya semata. Berkata Syaikh Muhammad Aman Al Jami Rahimahullah : “ Yaitu pengenalan seorang hamba kepada Allah yang mewajibkan mencintaiNya Subhanahu wata’ala, takut kepadaNya, mengagungkanNya, mengagungkan perintahNya dan syari’atNya. Pengenalan yang mewajibkan muraqabatullah (merasa dalam pengawasan Allah Ta‘ala) dan takut kepadaNya serta puncak cinta kepadaNya, dikarenakan cinta kepada Allah adalah ruh iman, dan iman jika kosong dari cinta kepada Allah seperti jasad yang mati (tanpa ruh –ed)” (Syarhu Tsasatil Usuul : 21).

Dan pengenalan seorang hamba kepada Allah dengan cara membaca ayat – ayatNya yang menjelaskan tentang keesaan Allah didalam rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma (nama-nama) dan sifatNya. Begitu juga dengan memikirkan ciptaanNya karena itu semua menunjukkan tentang kebesaran dan keagunagn Allah yang menciptakannya.

Pengenalan seorang hamba kepada Allah tidaklah terlealisasi kecuali dengan mengimani empat hal :

Pertama : Beriman kepada wujud (keberadaan) Allah

Sesungguhnya menyakini wujud (keberadaan) Allah adalah perkara fitrah yang Allah fitrahkan kepada manusia sejak lahir. Sebagian besar manusia mengakui wujud (keberadaan) Allah dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali sedikit seperti orang atheis itupun karena kesombongan mereka padahal hati mereka menyakini.

Adanya langit, bumi, matahari bulan dan makhluk lainnya serta keteraturan alam semesta menunjukkan ada yang mencipta dan yang mengaturnya, Dialah Allah yang mencipta dan mengatur alam semesta ini.

Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“ Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (yang menciptakan) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? “ (Qs. Ath Thur : 35)

Dan Allah Ta’ala berfirman :

لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا الليْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“ Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Qs. Yasin : 40)

Kedua : Beriman kepada rububiyah Allah

Yaitu menyakini bahwasannya Allah adalah Rabb segala sesuatu, pemilik, pencipta, pemberi rezeki yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi manfaat dan mudharat (bahaya), yang segala urusan berada ditanganNya. Dan bahwasannya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada sekutu bagi Nya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“ Dan tidak ada suatu binatang melatapun dilangit dan dibumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya” (Qs. Hud : 6)

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ

“ Kepunyaan Allahlah langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya “ (Qs. Al Maidah : 120)

Ketiga : Beriman kepada uluhiyah Allah

Yaitu mengesakan Allah didalam ibadah kita, tidaklah kita beribadah melainkan hanya kepada Nya. Seluruh ibadah kita dzahiran (lahiriah) dan Bathinan (hati), seperti doa, menyembelih, nadzar, khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakal hanya kita peruntukkan kepada Allah semata.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

Keempat : Beriman kepada asma (nama-nama) dan sifat Allah

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifatNya, dengan menetapkan nama-nama dan sifat Allah yang Allah dan Rasul Nya tetapkan dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makhlukNya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)

Pengenalan seorang hamba kepada Allah adalah dengan merealisasikan keimanan terhadap empat hal diatas, beriman kepada wujud (keberadaan) Allah, rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma dan sifatNya. Dan wajib atas seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar sehingga dia bisa beribadah kepada Allah diatas basihrah (ilmu) dan tidak boleh bodoh atau melalaikan dari mengenal kepada Allah.

sumber;www.tauhiddansyirik.wordpress.com

Sudahkah Anda Berpoligami ?

Fadhilatus Syaikh Saleh As-Suhaimi Hafizhahullah Ta’ala

Pertanyaan yang disertai tanda tangan:

“Bagaimana cara memberi pengertian kepada seorang istri jika aku ingin menikah yang kedua kali, namun dia tidak menerimanya dan berkata: kecuali jika kamu menceraikan aku atau setelah aku mati, atau kamu bersabar hingga saya menjadi tua, dan saya memiliki lima anak?”

Syaikh Saleh As-Suhaimi Hafizhahullah Ta’ala menjawab:

جزاك الله خيرا على هذا السؤال وعلى التوقيع يبدو أن التوقيع نابع من الإرهاب الذي يمارس عليك من قبلها

أقول –وفقني الله وإياك وجميع المسلمين- إن هذه الأفكار نابعة من تقليد الغرب مسألة منع التعدد والتي فرض في بعض بالبلاد الإسلامية فرضا فيجيزون اتخاذ الأصدقاء والصديقات ويحرمون التعدد هذا في بعض البلاد الإسلامية ناهيك عن بلاد الكفر والغرب فيجيز القانون عندهم اتخاذ صديقة لو تستصحب أية صديقة وتقبلها في الشارع العام ليس هناك من معترض عليك ,لكن أن تتزوج بالثانية فهذه عندهم جريمة نكراء لا تغتفر,

أقول: كل هذا ناتج من تبعيتنا للغرب, ومن تشبه بقوم فهو منهم فإذا وجدت في نفسك القدرة الجسدية والمادية والقدرة على العدل فحطم هذه الأغلال وتجاوز هذه العقبات وأحي هذه السنة

وأذكر أن شيخنا الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله تعالى إذا جاءه أحد من أوائل أسئلته بعد أن يسأل عن صحته ودينه وأموره, يسأله : هل أنت معدد, كم زوجة عندك؟

فإن قال: ما عندي إلا واحدة حثه على التعدد, وقال: إن الله بدأ بالتعدد فقال ((فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع )) إن وجدت في نفسك القدرة على العدل ويلوم الذين يخافون من التعدد .

ولما قال له أحد الإخوة يداعبه : يا شيخنا أنا موحد ,طبعا لا يقصد الموحد من التوحيد ,يقصد أنه ليس عنده إلا واحدة ,قال رحمه الله: هذا توحيد الخائفين –رحمة الله عليه وسائر علمائنا –

فيا إخوان إياكم والتبعية للإفرنج فإن هذا من تبعية الإفرنج ومن تبعية الغرب ,فعلى المسلم أن يكون متبعا لهدي النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم لا متبعا لتعليم الغرب

وليس إذن الزوجة شرطا في زواجك لكن كما قلت: يجب أن تراعي أمرا وهي قدرتك على تنفيذ الشروط وهي العدالة والقدرة الجسدية والمادية

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يوفقني وإياكم لما يحبه ويرضاه وصلى الله عليه وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه

“Jazakallahu khaer atas pertanyaan dan tanda tangan ini, nampaknya tanda tangan ini muncul disebabkan adanya teror yang sedang kamu hadapi dari istrimu.

Saya berkata –semoga Allah memberi taufik kepadaku, kepadamu dan seluruh kaum muslimin- bahwa sesungguhnya pemikiran ini muncul dari sikap ikut- ikutan terhadap barat, permasalahan tidak bolehnya berpoligami yang merupakan masalah yang dijadikan sebagai ketetapan disebagian negara islam, dimana mereka membolehkan mengambil pasangan lelaki dan wanita, lalu mereka mengharamkan poligami, ini terjadi di sebagian negara islam, terlebih lagi dinegara-negara kafir dan barat, undang-undang mereka membolehkan seorang lelaki mengambil pasangan wanita yang mana saja, lalu menciumnya di tengah jalan, tidak akan ada yang melarang kamu melakukannya. Namun kalau kamu menikah yang kedua, maka menurut mereka ini merupakan tindakan kejahatan besar.

Saya berkata: ini semua muncul disebabkan karena sikap ikut-ikutan kita kepada barat, dan siapa yang menyerupai satu kaum maka dia termasuk mereka. Jika engkau mendapati dirimu mampu baik dari sisi jasad maupun materi, dan mampu berbuat adil maka lepaskan belenggu-belenggu ini dan lewati setiap tantangan lalu hidupkan sunnah ini.

Saya mengingat Syaikh kami Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah Ta’ala jika ada seseorang datang kepada Beliau, diantara pertanya-pertanyaan yang Beliau ajukan pertama kali kepada orang tersebut setelah bertanya tentang kesehatan, agama, dan urusannya, Beliau bertanya: apakah engkau berpoligami? Berapa istrimu?. Jika dia menjawab: saya tidak memiliki istri kecuali satu ,maka Beliau menganjurkannya untuk berpoligami, dan mengatakan: Sesungguhnya Allah Memulai dengan poligami dalam firman-Nya:

((فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع ))

“Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.” (QS.An-Nisaa:3)

“Nikahilah wanita yang baik diantara kalian dua-dua, tiga-tiga, dan empat-empat.”

Hal itu jika engkau merasa punya kemampuan untuk berbuat adil, dan Beliau mencela orang-orang yang takut berpoligami.

Dan jika ada salah seorang ikhwan bergurau kepada Beliau: Wahai Syaikh kami, saya muwahhid (bertauhid), tentu maksudnya bukan mentauhidkan Allah Ta’ala, namun dia memaksudkan bahwa dia tidak memiliki istri kecuali satu, maka Beliau rahimahullah menjawab: ini tauhid-nya para penakut.-semoga Allah merahmati Beliau dan seluruh para ulama kita-.

Wahai ikhwan, hendaknya kalian menjauhi sikap ikut-ikutan terhadap bangsa Eropa, sebab ini merupakan sikap ikut- ikutan terhadap Eropa dan barat. Wajib bagi seorang muslim mengikuti bimbingan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam , bukan mengikuti barat.

Dan bukanlah izin dari istri (pertama) menjadi syarat untuk kamu berpoligami, namun seperti yang aku katakan: wajib bagimu memperhatikan satu perkara yaitu kemampuan kamu untuk menjalankan syarat- syaratnya yaitu berbuat adil dan memiliki kemampuan jasmani dan materi.

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia, Rabb pemilik Arasy yang Agung agar memberi taufik kepadaku dan kepada kalian kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam serta berkah tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

sumber;
www.salafybpp.com/muslimah/117-sudahkah-anda-berpoligami.html

Homoseks

Dosa Besar Itu Bernama Homoseks

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah al Jakarty

Sungguh sangat mengkhawatirkan ketika perbuatan maksiat tersebar di negeri ini, apalagi sebuah dosa besar yang bernama liwath (homoseks). Maka bisa hancur negeri ini. Hal ini diperparah dengan adanya orang-orang (baca: syaithan dari jenis manusia) yang notabene berlatar belakang mempunyai pendidikan Islam…!!! (iya… tapi belajar dari orang-orang sesat seperti di kampus IAIN atau belajar di Amerika) yang membolehkannya. Maka penjelasan di bawah ini diantara beberapa bahaya perbuatan liwath (homoseks) yang sudah seharusnya seorang muslim berhati-hati terhadap dosa besar ini.

Pertama : Liwath (homoseks) adalah sebuah dosa yang belum pernah dilakukan oleh sebuah kaum sebelum kaum Nabi Luth. Dan Allah subhanahu wa ta’ala menimpakan adzab kepada mereka dengan adzab yang belum pernah diturunkan kepada siapapun karena sangat jeleknya perbuatan mereka dan sangat berbahayanya perbuatan tersebut.

Allah ta’aala berfirman :

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? Sesungguhnya kamu melampiaskan syahwatmu kepada sesama laki-laki, bukan kepada wanita, kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.’” (Al A’raaf : 80-81)

Sampai-sampai seorang khalifah Bani Ummayyah yang membangun Masjid Jami’ Damaskus mengatakan: “Jika seandainya Allah tidak menceritakan kepada kita tentang perbuatan yang dilakukan kaum Nabi Luth, aku tidak menyangka ada seorang laki-laki yang melampiaskan hawa nafsunya (berhubungan badan) kepada laki-laki lain.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/488, cet. Daarul hadits)

Lalu bagaimana sekiranya jika seorang khalifah Bani Ummayah tersebut mengetahui bahwa ada pada zaman ini orang yang membolehkan liwath (homoseks)…!!! Seperti syaithan laki-laki yang bernama Drs. Imam Nakhai (dosen Institute Agama Islam Ibrahimi/IAII) Situbondo, atau M. Khadafi (dosen sosiologi IAIN Sunan Ampel) dua orang ini menjadi pembicara di sebuah seminar yang bertema “Nikah Yes Gay Yes”. Atau seorang syaithan wanita yang bernama Prof. Dr. Siti Musdah Mulia yang membolehkan homoseks .

Mari kita simak perkataan Imam Adz Dzahabi, berkata al Imam Adz Dzahabi rahimahullah : “Sungguh Allah telah mengisahkan kepada kita kisah kaumnya Nabi Luth pada banyak tempat di dalam kitab-Nya (Al Qur’an) yang mulia. Bahwasanya Dia (Allah) telah membinasakan mereka dikarenakan perbuatan busuk mereka. Kaum muslimin dan selain mereka dari orang yang beragama sepakat bahwasanya perbuatan liwath (homoseks) termasuk perbuatan dosa besar.” (Kitab Al Kabaair : 59, cet. Daar Ibnu Hazm)

Adapun tentang adzab yang Allah timpakan kepada kaum Luth dikarenakan perbuatan liwath (homoseks) yang mereka lakukan adalah sebagaimana di dalam ayat-ayat berikut ini.

Allah ta’aala berfirman :

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“ Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkirbalikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar. Yang diberi tanda oleh Rabbmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang yang dzalim.” (Qs. Hud : 82-83)

Kita berlindung kepada Allah dari Murka dan adzab-Nya. Masihkan ada orang yang termakan pemikiran sesat orang-orang yang membolehkan homoseks…!!!

Kedua : Liwath (homoseks) sebuah dosa besar yang Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam mengkhawatirkan akan menimpa umatnya.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku takuti dari umatku adalah perbuatan kaum Nabi Luth.” (HR. Imam Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan Syaikh al Albani)

Ketiga: Dosa liwath (homoseks) akan menumbuhkan keenggganan pemuda untuk menikah dan menjadi musnahnya generasi manusia disamping bahaya-bahaya lain seperti tersebarnya kemaksiatan, zina atau menjadi sebab tersebarnya penyakit yang sangat berbahaya, infeksi pada dubur, penyakit tifoid dan disentri, penyakit sifilis, penyakit gonore (kencing darah), herpes, AIDS, dan lainnya.

Keempat: Dosa Liwath adalah sebuah dosa yang pelakunya dilaknat (dijauhkan dari rahmat Allah subhaanahu wa ta’aala).

Sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“….. Terlaknat orang yang menggauli binatang, terlaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth (liwath/homoseks).” (HR. Ahmad dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

Kelima : Liwath (homoseks) sebuah dosa besar yang pelakunya dihukum dengan dibunuh.

Dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu dia berkata, bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam bersabda:

”Barangsiapa yang kalian temui melakukan perbuatan kaum Luth (liwath/homoseks) maka bunuhlah pelaku dan orang yang menjadi objeknya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan dishahihkan oleh al Hakim dan disetujui oleh Adz Dzahabi dan dishahihkan pula riwayat ini oleh al Albani).

Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullaah : “ Sepakat mayoritas shahabat atau seluruh shahabat atas melakukan konsekuensi dari hadits ini. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah : ‘ Para shahabat Rasulullah shalallaahu ‘alahi wassalam tidak berselisih pendapat tentang hukum bunuh bagi orang yang melakukan liwath (homoseks) bagi pelakunya atau orang yang dijadikan objek, akan tetapi berselisih pendapat bagaimana tatacara memberlakukan hukum bunuhnya, sebagian mereka berkata dirajam pakai batu, sebagian lagi berkata dijatuhkan di tempat yang paling tinggi dari sebuah negeri, sebagian mereka berkata dihukum pelaku dan objeknya jika ia ridha (dihomoseks) keduanya dihukum mati dalam keadaan apapun, sama saja sudah pernah menikah ataupun belum pernah menikah, dikarenakan sangat besar dosa pelakunya dan berbahaya jika keduanya berada di komunitas manusia, dikarenakan keberadaan keduanya (pelaku dan objek tersebut) akan membunuh secara maknawi di komunitas manusia dan keutamaan (akhlaq). Dan tidak diragukan binasanya mereka berdua lebih baik dari pada binasanya manusia dan akhlaq mulia.” (Syarh Kitaab al Kabaair, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, pada dosa besar yang ke 21, cet. Daar al Ghadd al Jadiid : 79)

Semoga penjelasan sederhana ini yaitu tentang bahayanya perbuatan liwath (homoseks) membuat kita lebih berhati-hati dari terjatuh kedalam dosa ini dengan menjauhi sebab-sebab yang mengantarkan kepada dosa ini seperti menunda menikah padahal pada kondisi dirinya sudah sampai wajib untuk menikah atau dengan memandang amrad (anak kecil yang tampan) dengan pandangan syahwat atau bergaul dengan kaum Gay atau dengan belajar atau menerima statement orang (baca: syaithan dari jenis manusia) yang membolehkan homoseks, karena kalau orang sudah tidak menganggap homoseks sebagai kelainan, penyakit dan perbuatan maksiat maka dengan sangat mudah dia akan terjerumus ke dalam dosa itu. Semoga Allah subhaanahu wa ta’aala menjaga kita semua dan kaum muslimin. Amin

sumber;
www.tauhiddansyirik.wordpress.com

Pengenalan seorang Hamba terhadap Allah

Pengenalan seorang Hamba terhadap Allah

al akh Abu Ibrahim Abdullah

Sebuah kewajiban yang paling pokok dan mendasar bagi seorang hamba adalah mengenal Rabbnya, mengenal Allah yang telah menciptakannya, memelihara dan memberi rezeki kepadanya, Yang tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak disembah melaikan Dia.

Wajib bagi seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar yang membuahkan rasa cinta kepada Allah, takut kepada Nya dan beribadah kepadaNya semata. Berkata Syaikh Muhammad Aman Al Jami Rahimahullah : “ Yaitu pengenalan seorang hamba kepada Allah yang mewajibkan mencintaiNya Subhanahu wata’ala, takut kepadaNya, mengagungkanNya, mengagungkan perintahNya dan syari’atNya. Pengenalan yang mewajibkan muraqabatullah (merasa dalam pengawasan Allah Ta‘ala) dan takut kepadaNya serta puncak cinta kepadaNya, dikarenakan cinta kepada Allah adalah ruh iman, dan iman jika kosong dari cinta kepada Allah seperti jasad yang mati (tanpa ruh –ed)” (Syarhu Tsasatil Usuul : 21).

Dan pengenalan seorang hamba kepada Allah dengan cara membaca ayat – ayatNya yang menjelaskan tentang keesaan Allah didalam rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma (nama-nama) dan sifatNya. Begitu juga dengan memikirkan ciptaanNya karena itu semua menunjukkan tentang kebesaran dan keagunagn Allah yang menciptakannya.

Pengenalan seorang hamba kepada Allah tidaklah terlealisasi kecuali dengan mengimani empat hal :

Pertama : Beriman kepada wujud (keberadaan) Allah

Sesungguhnya menyakini wujud (keberadaan) Allah adalah perkara fitrah yang Allah fitrahkan kepada manusia sejak lahir. Sebagian besar manusia mengakui wujud (keberadaan) Allah dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali sedikit seperti orang atheis itupun karena kesombongan mereka padahal hati mereka menyakini.

Adanya langit, bumi, matahari bulan dan makhluk lainnya serta keteraturan alam semesta menunjukkan ada yang mencipta dan yang mengaturnya, Dialah Allah yang mencipta dan mengatur alam semesta ini.

Allah Ta’ala berfirman :

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“ Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun (yang menciptakan) ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? “ (Qs. Ath Thur : 35)

Dan Allah Ta’ala berfirman :

لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا الليْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“ Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Qs. Yasin : 40)

Kedua : Beriman kepada rububiyah Allah

Yaitu menyakini bahwasannya Allah adalah Rabb segala sesuatu, pemilik, pencipta, pemberi rezeki yang menghidupkan dan mematikan, yang memberi manfaat dan mudharat (bahaya), yang segala urusan berada ditanganNya. Dan bahwasannya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu dan tidak ada sekutu bagi Nya.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Segala puji bagi Allah Rabb semesta Alam” (QS. Al-Fatihah : 2)

اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

Artinya : “Allah pencipta segala sesuatu “ (QS. Az-Zumar : 62)

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“ Dan tidak ada suatu binatang melatapun dilangit dan dibumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya” (Qs. Hud : 6)

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ

“ Kepunyaan Allahlah langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya “ (Qs. Al Maidah : 120)

Ketiga : Beriman kepada uluhiyah Allah

Yaitu mengesakan Allah didalam ibadah kita, tidaklah kita beribadah melainkan hanya kepada Nya. Seluruh ibadah kita dzahiran (lahiriah) dan Bathinan (hati), seperti doa, menyembelih, nadzar, khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakal hanya kita peruntukkan kepada Allah semata.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya : “Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan memohon pertolongan” (QS. Al-fatihah : 5)

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya”. (QS. An-Nisaa : 36)

Keempat : Beriman kepada asma (nama-nama) dan sifat Allah

Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifatNya, dengan menetapkan nama-nama dan sifat Allah yang Allah dan Rasul Nya tetapkan dengan tanpa menyerupakan Allah dengan makhlukNya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya : “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura’ : 11)

Pengenalan seorang hamba kepada Allah adalah dengan merealisasikan keimanan terhadap empat hal diatas, beriman kepada wujud (keberadaan) Allah, rububiyahNya, uluhiyahNya dan asma dan sifatNya. Dan wajib atas seorang hamba untuk mengenal Allah dengan pengenalan yang benar sehingga dia bisa beribadah kepada Allah diatas basihrah (ilmu) dan tidak boleh bodoh atau melalaikan dari mengenal kepada Allah.

sumber;
www.tauhiddansyirik.wordpress.com

Tidak mau ah jadi orang bodoh“

Tidak mau ah jadi orang bodoh“

al Akh Abu Ibrahim Abdullah Al Jakarty

Siapa sih yang ingin jadi orang bodoh.?! Insya Allah kita semua akan menjawab tidak ada yang mau. Dalam urusan yang sepele saja dari perkara dunia kita bisa merasakan dampak dari tidak enaknya jadi orang bodoh, apalagi kalau bodoh dalam masalah agama, jelas lebih fatal dampak buruknya, tidak hanya didunia bahkan diakhirat juga.

Dan bodoh dalam masalah agamalah yang tercela. Karena kebodohan dalam agama menyebabkan seseorang terjatuh dalam penyelisihan terhadap syariat Allah, baik penyelisihan yang bentuknya ucapan ataupun perbuatan.

Allah Ta’ala berfirman

قُلْ أَفَغَيْرَ اللهِ تَأْمُرُونِي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

“ Katakanlah: maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang- orang yang tidak berpengetahuan.? “ ( Qs. Az- zumar: 64)

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“ Bani Israill berkata: Wahai Musa buatlah untuk kami sebuah sesembahan ( berhala) sebagai mana mereka mempunyai beberapa sesembahan ( berhala). Musa menjawab : “ sesungguhnya kamu itu kaum yang tidak mengetahui ( bodoh terhadap Allah)…” (Qs. Al A’raaf : 138 )

Berkata Asy Syaikh Al Allamah Abdurahman As Sa’di Rahimahullah : “ Kebodohan mana yang lebih besar dari seseorang yang bodoh terhadap Rabbnya, Penciptanya dan ia ingin menyamakan Allah dengan selain Nya, dari orang yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat (bahaya), tidak mematikan, tidak menghidupkan dan tidak memiliki hari perkumpulan (kiamat) “ (Taisirul Karimurrahman Syaikh Al Allamah Abdurahman As Sa’di pada ayat ini)

Allah Ta’ala berfirman

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“ Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (Qs. An Naml : 55)

Sudah saatnya kita menuntut ilmu syar’i (agama) untuk menghilangkan kebodohan dalam diri kita, disamping karena itulah yang Allah dan Rasul Nya perintahkah kepada kita. Banyak dalil yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu diantaranya adalah.

Allah Ta’ala berfirman

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang-orang yang beriman dari engkau semua dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa derajat.” (Qs. al-Mujadalah: 11)

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Hadist yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga “ (HR. Muslim)

Akan tetapi ada hal yang harus kita ketahui juga, yaitu jangan sembarangan mencari guru atau ustadz dalam kita menuntut ilmu agama, cari guru yang mempunyai pemahaman yang benar yang dilandasi diatas al Qur’an dan As Sunnah (hadist) dengan pemahaman salafus shalih (generasi terdahulu yang shalih), Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Sesunggunya sebagian dari tanda-tanda hari kiamat ialah, dicarinya ilmu itu dari para ahli bid’ah (orang yang menyimpang yang melakukan perbuatan bid’ah) “ (HR. Ibnu Mubarak, ath Thabrani dan dishahihkan oleh syaikh Al Bani)

Hudzaifah Bin Yaman pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam “…… Maka aku bertanya lagi apakah sesudah kebaikkan (yang bercampur kekeruhan itu) akan datang lagi kejahatan? Beliau menjawab : Ya, yaitu para dai yang berada di pintu-pintu jahannam, barangsiapa yang mengikutinya dakwah mereka, pasti mereka akan melemparkannya kedalam neraka jahannam “ (HR. Bukhari dan Muslim)

Semangat yuk kita cari ilmu syar’i untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita disamping sebagai bekal diakhirat kelak.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ Jika mati seorang manusia, maka putuslah kecuali 3 perkara :

1. Shadaqah Jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat
3. Anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim)

sumber;www.tauhiddansyirik.wordpress.com

“The particulars of entering the Religion of Islâm”

كيفية الدخول في الاسلام

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين وصلى الله على محمد وعلى آله وسلم وبعد فإن مَن منُّ الله عليه بالدخول في الإسلام فقد حاز خير الدنيا والآخرة فعليك يا عبد الله أن تحمد الله على ذلك وأن تشكره قال تعالى (وإذ تأذن ربكم لئن شكرتم لأزيدنكم ولئن كفرتم إن عذابي لشديد ) وأسأل الله أن يتم عليك هذه النعمة إلى أن تموت وأنت على الإسلام قال تعالى (يائيها الذين أمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون).

كيفية الدخول في الاسلام

واعلم أنه يلزمك عند الدخول في الإسلام أن تغتسل ثم تنطق الشهادتين قائلا (أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله)وتكون بهذه الشهادة قد دخلت في الإسلام ولو كنت قبل ذلك في أي ملة إلا إذا كنت من قبل ذلك من أمة عيسى ابن مريم عليه وعلى نبينا الصلاة والسلام فيلزمك أن تقول في شهادتك ( أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله وأن عيسى عبد الله ورسوله) .

“The particulars of entering the Religion of Islâm”

In the name of Allah, the Most Gracious, Most Merciful

All praise belongs to Allah the Lord of all the worlds; and May Allah send blessings and send salutations upon Muhammad, His family and companions.

To proceed, indeed whomever Allah has blessed upon him/her to enter into the Religion of Islâm, and then surely he has achieved the best of this worldly life as well as the hereafter. Hence, it is incumbent upon you, Oh servant of Allah, that you praise Allah for that and that you show gratitude to Him. Allah the Most High says (in the Quran, His Last Revelation),

“And (remember) when your Lord proclaimed, “If you give thanks (by accepting Faith and worshipping none but Allâh), I will give you more (of My Blessings), but if you are thankless (i.e. disbelievers), verily! My Punishment is indeed severe.” [Surah 14:7]

Moreover, I ask Allah that He continue this blessing upon you until you pass away while you are upon the Religion of Islâm. Allah the Most High says (in the Quran, His Last Revelation),

“O you who believe! Fear Allâh, as He should be feared; and die not except in a state of Islâm (as Muslims) with complete submission to Allâh.” [Surah 3:102]

And you must know that it will be incumbent upon you when entering the Religion of Islâm that take Ghusl (i.e. a bath), afterwards need to say the two testimonies stating,

“Ash’ ha’du an lā ilāha illā Allâh, wa Ash’ ha’du anna Muhammadān Rasūllallah”

”I bear witness that none has the right to be worshipped in truth except Allah alone, and I bear witness that indeed Muhammad is the Messenger of Allah.”

You will be, by way of this testimony, have entered the Religion of Islâm even if you were before that in any other Religion. Even if you was before that (i.e. testimony) from the Religion of ‘Esā (i.e. Jesus) the son Mary, may Allah send blessing on him as well as our Prophet (i.e. Muhammad). Therefore, it is incumbent upon you to say in your testimony,

“Ash’ ha’du an lā ilāha illā Allâh, wa Ash’ ha’du anna Muhammadān Rasūllallahi, wa an ‘Esā ‘Abdullahi wa Rasūllallahi “

”I bear witness that none has the right to be worshipped in truth except Allah alone, and I bear witness that indeed Muhammad is the Messenger of Allah and that indeed ‘Esā (i.e. Jesus) is the servant and Messenger of Allah.”

http://www.olamayemen.com/show_book72.html

Peduli Sesama

Terkait dengan musibah gunung Merapi yang melanda daerah Magelang, Klaten, Boyolali, dan DI.Yogyakarta, pada hari ini, tanggal 5 November 2010 – 28 Dzulqa’dah 1431 H pukul 14.00 diadakan rapat tanggap darurat sebagai antisipasi awal untuk membantu meringankan beban korban yang ada di wilayah tersebut.

Rapat tersebut dipimpin oleh Ustadz Abdul Haq dan dihadiri oleh:
1. Ustadz Abdul Jabbar
2. Ustadz Abdul Mu’thi
3. Ustadz Muhammad Higa
4. Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar
5. Ustadz Hamzah bin Rifa’i, dan beberapa ikhwah.

Dan hasil pertemuan adalah sebagai berikut:
1. Posko Utama Musibah Merapi DIY
Ma’had Ar-Ridho
Dusun Dagaran RT 06 RW 46 Jurug Bangunharjo Sewon Bantul

2. Pusat Informasi:
PAKIS (Panitia Kajian Islam) Yogyakarta
Telp: 0274-7170587 / 085747566736

3. Alamat Rekening:
a. Nama Bank : PT. Bank MANDIRI (Persero) Tbk KCP Bantul
Nama pemilik rekening : Zulkarnain Nur Fajar
No rekening : 1370005969130
Swift Code : BEIIIDJA
b. Nama Bank : PT Bank Central Asia, Tbk (BCA) KCP Katamso Yogyakarta
Nama pemilik rekening : Muhammad Fajaruddin MZA
No. rekening : 4450918887
Swift Code : CENAIDJA

4. Koordinator Lapangan
Ustadz Hamzah bin Rifa’i

5. Alamat Kirim Bantuan Barang:
a. Glagahsari UH IV No. 538 Umbulharjo Yogyakarta 55164 (Pak Windaryono)
Telp: 0274-7453237
b. Toko al-Huda, Jl,Imogiri Barat No.119 Perempatan Ring Road Selatan Wojo, Sewon, Bantul, 55187

6. Data Sementara:
Ma’had Minhajus Sunnah, Batikan, Pabelan, Mungkid, Magelang
dan
Ma’had Al-Anshar Wonosalam, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman
dikosongkan.

Untuk sementara baru dalam proses pendataan tempat pengungsian kaum muslimin yang ada di lokasi tersebut.

Hubungi HP: 0811259226. Email: posko.arridho[at]gmail.com untuk informasi pengiriman bantuan.

سبيل النجاة الذي يسلكه المسلم حتى يسلم من الفتن.

سبيل النجاة الذي يسلكه المسلم حتى يسلم من الفتن.

فضيلة الشيخ عبيد بن عبد الله الجابري – حفظه الله – : الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد ،، ظهر لي بما أدركته من نصوص الشارع أمور أضعها أمامكم يا بَنِيَّ وأنتم ولله الحمد طلاب علمٍ تدركون ما ندرك وتعرفون تماماً ما نرمي إليه ..

الأمر الأول: التزود من العلم، علم الشريعة، وأساس ذلك فقه العقيدة فقه التوحيد، ثم بعد ذلك فقه سائر الفرائض العملية، فإنه لا يخفى عليكم ما دَوَّنَه أئمة الإسلام في هذا الباب وجمعوا فيه النصوص ومن ذلكم: “السنة” لابن أبي عاصم، “والسنة” لعبد الله بن أحمد، “والتوحيد” لابن خزيمة، “والتوحيد” لابن مندة ، “والإبانة” لابن بطة العكبري ، “والإبانة” لأبي الحسن الأشعري ، “والأيمان” لابن مندة “والتوحيد” له، ثم بعد ذلك كُتب الأحكام فمن الحديث: الأمهات الست، وسنن الإمام أحمد، وسنن الدارقطني، ومستدرك الحاكم وغيرها من دواوين الإسلام .

والخلاصة: إن طالب العلم في حاجة إلى أن يتتلمذ على كتب السلف التي عُنِيَ مُؤَلِفُوها بنقل أصول الدين وفروعه .

الأمر الثاني:ملازمة أهل العلم، المشهود لهم بالورع والتقوى ورسوخِ القدم في العلم، والصدعِ بالحق، والدعوةِ إلى السنة فإنّ علماء الشرع هم أسعد الناس وأولى الناس برسول الله صلى الله عليه وسلم؛ وذلكم لأنهم أهل ميراثه كما في الحديث الصحيح: «وإن العلماءَ ورثةُ الأنبياء، فإن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً وإنما ورَّثوا العلم فمن أخذ به أخذ بحظ وافر».

الأمر الثالث:البعد عن الكتب الفكرية، وعلى رأسها كتب سيد قطب، وكتب محمد قطب، وكتب القرضاوي، وكتب الغزالي السقَّا وما شابهها، فهذه الكتب وما شابهها مما تسمى: كتب الفكر أو كتب المفكرين:

أولاً: غالبها مبني على الجهل بحقائق الشرع.
وثانياً: ما فيها من حق فهو نزر يسير مغمور بأضعافه من الباطل، وهذا الحق المغمور بأضعاف مضاعفة من الباطل، في كتب السلف ما يغني عنه ولله الحمد، فإنه لا يَنْصَحُ أحدٌ بقراءة كتب هؤلاء إلا جاهل لا يعرف حال القوم، أو هو صاحب هوى يريد أن يجر المسلمين عامة والشباب خاصة إلى الهاوية والبدع والضلالات.

الأمر الرابع: لزوم الصمت والسكوت، وترك الأمر إلى من يحسنون القول ممن هم مُجَرَّبُون في التصدي للمعضلات وحل المشكلات بما آتاهم الله من الفقه والخبرة وحسن السياسة .
وهذا يرشد إليه :

أولاً: آية النساء”وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلاً” [النساء: 83]،

والأمر الثاني: إشارة في حديث صحيح وهو قوله صلى الله عليه وسلم: «كانت بنوا إسرائيل تسوسهم الأنبياء، كلما هلك نبي خلفه نبي، ولا نبي بعدي»، وقد جعل الله سياسة هذه الأمة في العلماء، وقد مرت أحداثٌ قديماً وحديثاً: ثبت بالتجربة أن أهل العلم الراسخين الأقوياء هم ساسة الأمة، وهم أجدر بالقول في النوازل والحُكْمِ فيها، ومن تلكم الحوادث حادثة قريبة وهي حادثة الخليج فعلماؤنا وعلى رأسهم الإمام الفقيه المجتهد الأثري الوالد الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله ومعه إخوانه من أهل العلم قالوا كلمتهم مبنيةً على الأدلة من نصوص الشارع، وصاح من صاح، وصرخ من صرخ، وهيّج من هيّج، فبان ولله الحمد أن الحق مع جماعة المسلمين لا مع هؤلاء المستفزين الشاذين، وهذا الموقف يشير إليه حديث حذيفة الطويل والذي قال فيه صلى الله عليه وسلم: «تلزم جماعةَ المسلمين وإمامهم».
انتهى جوابه عن هذا التساؤل حفظه الله تعالى .
وهذا ماتبقى من كلام الشيخ عبيد حفظه الله من تساؤله السابق حيث قال :

الأمر الخامس: حينما تحدث حادثه، وتنزِل نازلة، ويقول فيها بعض أهل العلم قولا، ويسكت آخرون لا يُدْرَى ما عندهم، فالواجب على شباب الإسلام ألا يتسرعوا في الأمر فَيَسُلُّوا سِكِّيْنَ الغضب على إخوانهم، بل عليهم أن ينظروا ماذا يقول أقرانُ هؤلاء المتكلمين وإخوانُهم، فإن أقران المتكلم أو إخوانه لا بد أن يكون لهم كلام ولا بد أن يكون لهم قول ولكن ليس من المصلحة أن يعلنوه فوراً، فإذا أعلنوا ( نحن ننتظر ) قد يعلنون الموافقة قد يعلنون المخالفة ننظر، إِذنْ لماذا التسرع ؟ إلزموا الصمت، فإن كثيراً من الحوادث حينما يتكلم فيها بعض الناس تحمساً للحق ومجالدةً في سبيل الصدع به ، سلوكهم هذا يفرّق الصف السلفي ويجعله متناحراً متنافراً فإذا كنت أنت مع ذلك العالم أو الطائفة من أهل العلم الذين تكلموا في حادثة معينة فإنه من المصلحة ألا تشيع بين إخوانك الفرقة ، فإن الساحة الآن حارّة والساحة أمواج تتلاطم ومن دعاة الباطل من يصطادون في الماء العكر وينتهزون أية فرصة حتى لو تشبثوا بخيط العنكبوت في تفريق الصف السلفي ، حتى نقطع الطريق عليهم ، نلزم الصمت ، وننظر: ماذا تكون النتيجة بين أهل العلم الذين هم أقران للطائفة أو لذلك الشخص الذين تكلموا أو الذي تكلم في حادثة معينة لاسيما إذا كان المتكلم مُجَرَّبٌ عليه الجهاد بالقلم وبالكلمة النافذة في نصرة السنة والذب عنها ودحض البدع ودحر أهلها فإن في سكوتك سلامة ، فإذا تكلم بعد ذلك إخوانه وأقرانه كان في ذلك الوقت الأمر واضحاً لدى الجميع.وإخوانه وأقرانه لن يتكلموا إلا بعد سلوك سبل متعددة:

أولاً: أن إخوانه وأقرانه ليسوا آلة في يده يلف بها يميناً وشمالاً، كيف كانوا أقراناً وإخواناً له إلا وعندهم آلة وأهلية للبت في المسألة.

وثانياً: أنهم إذا وقفوا من هذا المتكلم الذي عرفناه بصدق الجهاد والخبرة والقوة والمجالدة في سبيل السنة سوف يكون لهم به اتصالات ومدارسة معه فقد يرجع هو عن خطأ ظنه صواباً ، أو خطئوه بدليل أو وافقوه بدليل، فنكون بهذه الطريق حافظنا على تماسك الصف السلفي، وقطعنا الطريق على من يصطاد في الماء العكر ويتلمس كل وسيلة يفرق بها الكلمة وينشر بها الفرقة هناك أمور تحدث بين الشباب في أنفسهم فالواجب على الشباب أن يحيلوا ما أشكل عليهم إلى مشايخهم الذين وثقوا من دينهم وأمانتهم وعرفوا رسوخهم في العلم وشهدوا لهم بالنصح أن يرفعوا قضاياهم إليهم متجردين عن العاطفة العمياء والتعصب الأحمق، ليكنْ طُلْبَةٌ الجميع هو الحق ، بهذا سيتبين أن أحدهم مخطئ والأخر مصيب لكن إذا تصافت القلوب وحسنت النية فإنه لن يكون هناك تفرق ولا تشتيت، سيكون اجتماع على الحق ، زميلي أخطأ الحمد لله رجع إلى الحق، كنت مخطئاً رجعت إلى الحق ولله الحمد ما صار شيء.هذا يعني بعض ما يسر الله سبحانه وتعالى من الكلمة في هذا الموقف وقد فاجئني بعض أبنائنا وما كنت معد العدة التي تليق بهذا الاجتماع المبارك الذي أسأل الله عز وجل أن يجعله اجتماعاً مرحوماً وأن يجعل التفرق بعده تفرقاً معصوماً وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

* من محاضرة ( أسباب النجاة من الفتن )
* نقلتها الأخت الفاضلة ( أم خديحة المكية ) جزاها الله خيرا .

http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=1021

أسباب تعين على الصبر عن معصية الله عزّ وجلّ

أسباب تعين على الصبر عن معصية الله عزّ وجلّ

منبر الأسرة والمجتمع : الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله أما بعد ، فهذه عشرة أسباب تعين على الصبر عن معصية الله تعالى من كلام الإمام ابن القيّم الجوزية في كتابه طريق الهجرتين و باب السعادتين.

قاعدة : الصبر عن المعصية ينشأ من أسباب عديدة..

أحدها: علم العبد بقبحها ورذالتها ودناءَتها، وأن الله إنما حرَّمها ونهى عنها صيانة وحماية عن الدنايا والرذائل، كما يحمى الوالد الشفيق [والده] عما يضره. وهذا السبب يحمل العاقل على تركها ولو لم يعلق عليها وعيد بالعذاب.

السبب الثاني: الحياءُ من الله سبحانه، فإن العبد متى علم بنظره إليه ومقامه عليه وأنه بمرأَى منه ومسمع- وكان [حياً] حييّاً- استحى من ربه أن يتعرض لمساخطه.

السبب الثالث: مراعاة نعمه عليك وإحسانه إليك، فإن الذنوب تزيل النعم ولا بد، فما أذنب عبد ذنباً إلا زالت عنه نعمة من الله بحسب ذلك الذنب، فإن تاب وراجع رجعت إليه أو مثلها، وإن أصر لم ترجع إليه، ولا تزال الذنوب تزيل عنه نعمة حتى تسلب النعم كلها، قال الله تعالى: {إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ}* [الرعد: 11]، وأعظم النعم الإيمان، وذنب الزنا والسرقة وشرب الخمر وانتهاب النهبة يزيلها ويسلبها.
وقال بعض السلف: أذنبت ذنباً فحرمت قيام الليل سنة. وقال آخر: أذنبت ذنباً فحرمت فهم القرآن. وفى مثل هذا قيل:

إذا كنت فى نعمة فارعها == فإن المعاصى تزيل النعم

وبالجملة فإن المعاصى نار النعم تأْكلها كما تأْكل النار الحطب، عياذاً بالله من زوال نعمته وتحويل عافيته.

السبب الرابع: خوف الله وخشية عقابه. وهذا إنما يثبت بتصديقه فى وعده ووعيده والإيمان به وبكتابه وبرسوله. وهذا السبب يقوى بالعلم واليقين ويضعف بضعفهما. قال الله تعالى: {إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ}* [فاطر:28]، وقال بعض السلف: كفى بخشية الله علماً وبالاغترار بالله جهلاً.

السبب الخامس: محبة الله [سبحانه] وهى أقوى الأسباب فى الصبر عن مخالفته ومعاصيه. فإن المحب لمن يحب مطيع، وكلما قوى سلطان المحبة فى القلب كان اقتضاؤه للطاعة وترك المخالفة أقوى، وإنما تصدر المعصية والمخالفة من ضعف المحبة وسلطانها وفرق بين من يحمله على ترك معصية سيده خوفه من سوطه وعقوبته، وبين من يحمله على ذلك حبه لسيده، وفى هذا قال عمر: ((نعم العبد صهيب، لو لم يخف الله لم يعصه)) يعنى أنه لو لم يخف من الله لكان فى قلبه من محبة الله وإجلاله ما يمنعه من معصيته.
فالمحب الصادق عليه رقيب من محبوبه يرعى قلبه وجوارحه، وعلامة صدق المحبة شهود هذا الرقيب ودوامه.
وههنا لطيفة يجب التنبه لها، وهى أن المحبة المجردة لا توجب هذا الأثر ما لم تقترن بإجلال المحبوب وتعظيمه، فإذا قارنها بالإجلال والتعظيم أوجبت هذا الحياءَ والطاعة، وإلا فالمحبة الخالية عنهما إنما توجب نوع أنس وانبساط وتذكر واشتياق، ولهذا يتخلف عنها أثرها وموجبها، ويفتش العبد قلبه فيرى [فيه] نوع محبة لله، ولكن لا تحمله على ترك معاصيه. وسبب ذلك تجردها عن الإجلال والتعظيم، فما عمر القلب شيء كالمحبة المقترنة بإجلال الله وتعظيمه، وتلك من أفضل مواهب الله لعبده أو أفضلها، وذلك فضل الله يؤتيه من يشاءُ.

السبب السادس: شرف النفس وزكاؤها وفضلها وأنفتها وحميتها أن تختار الأسباب التى تحطها وتضع قدرها، وتخفض منزلتها وتحقرها، وتسوى بينها وبين السفلة.

السبب السابع: قوة العلم بسوءِ عاقبة المعصية، وقبح أثرها والضرر الناشيء منها: من سواد الوجه، وظلمة القلب، وضيقه وغمه، وحزنه وأَلمه، وانحصاره، وشدة قلقه واضطرابه، وتمزق شمله. وضعفه عن مقاومة عدوه، وتعريه من زينته والحيرة فى أَمره وتخلى وليه وناصره عنه، وتولى عدوه المبين له، وتوارى العلم الذى كان مستعداً له عنه، ونسيان ما كان حاصلاً له أَو ضعفه ولا بد، ومرضه الذى إذا استحكم به فهو الموت ولا بد، فإِن الذنوب تميت القلوب، ومنها ذله بعد عزة، ومنها أن يصير أسيراً فى يد أعدائه بعد أن كان ملكاً متصرفاً يخافه أعداؤه، ومنها أن يضع تأثيره فلا يبقى له نفوذ فى رعيته ولا فى الخارج فلا رعيته تطيعه إذا أَمرها، ولا ينفذ فى غيرهم، ومنها زوال أَمنه وتبدله به مخافة، فأخوف الناس أشدهم إساءة، ومنها زوال الأُنس والاستبدال به وحشة، وكلما ازداد إساءة ازداد وحشة، ومنها زوال الرضى واستبداله بالسخط، ومنها زوال الطمأْنينة بالله والسكون إليه والإيواء عنده واستبدال الطرد والبعد منه، ومنها وقوعه فى بئر الحسرات، فلا يزال فى حسرة دائمة كلما نال لذة نازعته نفسه إلى نظيرها إن لم يقض منها وطراً، أو إلى [غيرها] إن قضى وطره منها، وما يعجز عنه من ذلك أضعاف أضعاف ما يقدر عليه، وكلما اشتد نزوعه وعرف عجزه اشتدت حسرته وحزنه.
فيالها ناراً قد عذب بها القلب فى هذه الدار قبل نار الله الموقدة التى تطلع على الأفئدة، ومنها فقره بعد غناه فإنه كان غنياً بما معه من رأْس مال الإيمان وهو يتجر به ويربح الأرباح الكثيرة، فإذا سلب رأْس ماله أصبح فقيراً معدماً، فإما أن يسعى بتحصيل رأْس مال آخر بالتوبة النصوح والجد والتشمير [وإلا] فقد فاته ربح كثير بما أضاعه من رأْس ماله، ومنها نقصان رزقه، فإن العبد يحرم الرزق بالذنب يصيبه، ومنها ضعف بدنه، ومنها زوال المهابة والحلاوة التى لبسها بالطاعة فتبدل بها مهانة وحقارة، ومنها حصول البغضة والنفرة منه فى قلوب الناس، ومنها ضياع أعز الأشياءِ عليه وأنفسها وأعلاها، وهو الوقت الذى لا عوض منه، ولا يعود إليه أبداً، ومنها طمع عدوه فيه وظفره به، فإِنه إِذا رآه منقاداً مستجيباً لما يأْمره اشتد طمعه فيه وحدث نفسه بالظفر به وجعله من حزبه حتى يصير هو وليه دن مولاه الحق، ومنها الطبع والرين على قلبه، فإن العبد إذا أذنب نكت فى قلبه نكتة سوداء، فإن تاب منها صقل قلبه، وإن أذنب ذنباً آخر نكت فيه نكتة أُخرى ولا تزال حتى تعلو قلبه، فذلك هو الران، قال الله تعالى: {كَلا بَل رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكسِبُونَ}* [المطففين: 14]، ومنها أنه يحرم حلاوة الطاعة، فإذا فعلها لم يجد أثرها فى قلبه من الحلاوة والقوة ومزيد الإيمان والعقل والرغبة فى الآخرة، فإن الطاعة تثمر هذه الثمرات ولا بد. ومنها أن تمنع قلبه من ترحله من الدنيا ونزوله بساحة القيامة، فإن القلب لا يزال مشتتاً مضيعاً حتى يرحل من الدنيا وينزل فى الآخرة، فإذا نزل فيها أقبلت إليه وفود التوفيق والعناية من كل جهة، واجتمع على جمع أَطرافه وقضاءِ جهازه وتعبئة زاده ليوم معاده، وما لم يترحل إلى الآخرة ويحضرها فالتعب والعناءُ والتشتت والكسل والبطالة لازمة له لا محالة.
ومنها إعراض الله وملائكته وعباده عنه، فإن العبد إذا أعرض عن طاعة الله واشتغل بمعاصيه أعرض الله عنه فأعرضت عنه ملائكته وعباده، كما أنه إذا أقبل على الله أقبل الله عليه وأقبل بقلوب خلقه إليه، ومنها أن الذنب يستدعى ذنبا آخر، ثم يقوى أحدهما بالآخر فيستدعيان ثالثاً، ثم تجتمع الثلاثة فتستدعى رابعاً، وهلم جرا حتى تغمره ذنوبه وتحيط به خطيئته.

قال بعض السلف: إن من ثواب الحسنة الحسنة بعدها، ومن عقوبة السيئة السيئة بعدها، ومنها علمه بفوات ما هو أحب إليه وخير له منها من جنسها وغير جنسها، فإنه لا يجمع الله لعبده بين لذة المحرمات فى الدنيا ولذة ما فى الآخرة.
كما قال تعالى: {وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِى حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا}* [الأحقاف: 20]، فالمؤمن لا يذهب طيباته فى الدنيا، بل لا بد أن يترك بعض طيباته للآخرة.
وأما الكافر فإنه لا يؤمن بالآخرة فهو حريص على تناول حظوظه كلها وطيباته فى الدنيا، ومنها علمه بأن أعماله هى زاده ووسيلته إلى دار إقامته، فإن تزود من معصية الله أوصله ذلك الزاد إلى دار العصاة والجناة، وإن تزود من طاعته وصل إلى دار أهل طاعته وولايته، ومنها علمه بأَن عمله هو وليه فى قبره وأنيسه فيه وشفيعه عند ربه والمخاصم والمحاج عنه، فإن شاء جعله له، وإن شاء جعله عليه، ومنها علمه بأن أعمال البر تنهض بالعبد وتقوم به وتصعد إلى الله به، فبحسب قوة تعلقه بها يكون صعوده مع صعودها، وأعمال الفجور تهوى به وتجذبه إلى الهاوية وتجره إلى أسفل سافلين، وبحسب قوة تعلقه بها يكون هبوطه معها ونزوله إلى حيث [تستقر] به، قال الله تعالى: {إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ والعملُ الصَالِحُ يَرْفَعُهُ}* [فاطر: 10]، وقال تعالى: {إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَآءِ}* [الأعراف: 40]، فلما لم تفتح أبواب السماء لأعمالهم بل أغلقت عنها، لم تفتح لأرواحهم عند المفارقة بل أُغلقت عنها.

وأهل الإيمان والعمل الصالح لما كانت أبواب السماء مفتوحة لأعمالهم حتى وصلت إلى الله سبحانه، فتحت لأرواحهم حتى وصلت إليه تعالى وقامت بين يديه، فرحمها وأمر بكتابة اسمها فى عليين، ومنها خروجه من حصن الله الذى لا ضيعة على من دخله، فيخرج بمعصيته منه إلى حيث يصير نهباً للصوص وقطاع الطريق.
فما الظن بمن خرج من حصن حصين لا تدركه فيه [آفة] إلى خربة موحشة هى مأْوى اللصوص وقطاع الطريق فهل يتركون معه شيئاً من متاعه؟
ومنها أنه بالمعصية قد تعرّض لمحق بركته [فى كل شيء من أمر دنياه وآخرته فإن الطاعة تجلب للعبد بركات كل شيء والمعصية متحق منه كل بركة].
وبالجملة فآثار المعصية القبيحة أكثر من أن يحيط بها العبد علماً، وآثار الطاعة الحسنة أكثر من أن يحيط بها علماً فخير الدنيا والآخرة بحذافيره فى طاعة الله، وشر الدنيا والآخرة بحذافيره فى معصيته، وفى بعض الآثار يقول الله سبحانه وتعالى: من ذا الذى أطاعنى فشقى بطاعتى؟ ومن ذاى الذى عصانى فسعد بمعصيتى؟.

السبب الثامن: قصر الأمل، وعلمه بسرعة انتقاله، وأنه كمسافر دخل قرية وهو مزمع على الخروج منها، أو كراكب قال فى ظل شجرة ثم سار وتركها. فهو لعلمه بقلة مقامه وسرعة انتقاله حريص على ترك ما يثقله حمله ويضره ولا ينفعه، حريص على الانتقال بخير ما بحضرته، فليس للعبد أنفع من قصر الأمل ولا أضر من التسويف وطول الأمل.

السبب التاسع: مجانبة الفضول فى مطعمه ومشربه وملبسه ومنامه واجتماعه بالناس، فإن قوة الداعى إلى المعاصى إنما تنشأُ من هذه الفضلات، فإنها تطلب لها مصرفاً فيضيق عليها المباح فتتعداه إلى الحرام. ومن أعظم الأشياء ضرراً على العبد بطالته وفراغه، فإن النفس لا تقعد فارغة، بل إن لم يشغلها بما ينفعها شغلته بما يضره ولا بد.

السبب العاشر: وهو الجامع لهذه الأسباب كلها: ثبات شجرة الإيمان فى القلب، فصبر العبد عن المعاصى إنما هو بحسب قوة إيمانه، فكلما كان إيمانه أقوى كان صبره أتمّ وإذا ضعف الإيمان ضعف الصبر، فإن من باشر قلبه الإيمان بقيام الله عليه ورؤيته له، وتحريمه لما حرم عليه، وبغضه له، ومقته لفاعله وباشر قلبه الإيمان بالثواب والعقاب والجنة والنار، وامتنع من أن لا يعمل بموجب هذا العلم.
ومن ظن أنه يقوى على ترك المخالفات والمعاصى بدون الإيمان الراسخ الثابت فقد غلط، فإذا قوى سراج الإيمان فى القلب، وأَضاءَت جهاته كلها به، وأشرق نوره فى أرجائه، سرى ذلك النور إلى الأعضاء، وانبعث إليها، فأسرعت الإجابة لداعى الإيمان، وانقادت له طائعة مذللة غير متثاقلة ولا كارهة بل تفرح بدعوته حين يدعوها، كما يفرح الرجل بدعوة حبيبه المحسن إليه إلى محل كرامته. فهو كل وقت يترقب داعيه، ويتأهب لموافاته. والله يختص برحمته من يَشاءُ، والله ذو الفضل العظيم.

الكاتبة : أم خديجة المكية

http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=1026

Musibah Merapi Menyingkap Kesesatan Aliran Kebatinan (Kejawen)

Musibah Merapi Menyingkap Kesesatan Aliran Kebatinan (Kejawen)

Sangat disayangkan, di tengah-tengah derita kaum Muslimin Yogyakarta akibat musibah Merapi, Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal (PKTT) Yogyakarta semakin memperparah dengan “musibah” yang menghantam aqidah kaum muslimin. Yaitu dengan mengadakan suatu upacara kesyirikan dan kedurhakaan kepada Allah Ta’ala; menyembelih untuk selain Allah Ta’ala dan berbagai bentuk kesyirikan lainnya, demi menyenangkan setan-setan penghuni Merapi.

Ritual tolak bala ini tidak diragukan lagi adalah kesyirikan dan kekafiran kepada Allah Ta’ala, sebab menyembelih itu ibadah, dan ibadah tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya:

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku (kurbanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’” (Al-An’aam: 162-163)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain-Nya.” (HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu)

Namun ada hal yang lebih mendasar untuk dipahami oleh kaum muslimin, yaitu akar dari upacara-upacara syirik seperti ini berasal dari ajaran sesat Aliran Kebatinan atau yang juga dikenal dengan istilah Kejawen. Ajaran ini adalah sisa-sisa paganisme sebelum cahaya Islam menyinari nusantara dan masih dilestarikan oleh sebagian orang di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Ajaran ini tidak ada hubungan sedikitpun dengan Islam, bahkan sangat bertentangan dengan Islam. Betapa tidak, ajaran Islam dibangun di atas tauhid dan sunnah, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Allah Ta’ala dan meneladani Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam. Sedangkan ajaran Kebatinan atau Kejawen dibangun di atas kesyirikan dan kedurhakaan kepada Allah Rabbul’alamin.
Kekafiran Ajaran Kebatinan atau Kejawen
Pertama: Sinkretisme, mencampurkan antara Hindu, Budha dan Islam

Aliran Kebatinan atau Kejawen tidak menganggap salah ajaran Hindu dan Budha, bahkan mereka mencampurnya dengan Islam hingga menjadi suatu ajaran tersendiri. Adapun dalam Islam, barangsiapa yang membenarkan agama selain Islam, berarti dia telah kafir kepada Allah Ta’ala dan mendustakan Al-Qur’an. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلاَمُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)

Juga firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Kedua: Mereka tidak meyakini Allah Ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang benar

Padahal inilah inti dari kalimat syahadat [لاإله إلاالله], yang terdapat padanya dua rukun. Pertama: An-Nafyu (penafikan), yang tedapat dalam kalimat [لاإله], maknanya adalah menafikan atau menganggap salah semua sesembahan selain Allah Ta’ala. Kedua: Al-Itsbat (penetapan), yang terdapat dalam kalimat [إلاالله], yaitu menetapkan atau meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala satu-satunya sesembahan yang benar. Sehingga makna kalimat [لاإله إلاالله] adalah, “Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Ta’ala”.

Makna ini terdapat dalam banyak ayat, diantaranya firman Allah Ta’ala:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Yang demikian itu karena Allah Dialah yang haq (untuk disembah) dan apa saja yang mereka sembah selain Allah maka itu adalah sembahan yang batil dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Hajj: 62)

Dan telah dimaklumi bersama bahwa syahadat [لاإله إلاالله] adalah pintu masuk ke dalam Islam, barangsiapa yang belum merealisasikannya berarti dia belum masuk ke dalam Islam. Demikian pula orang yang telah memasukinya, jika dia melanggarnya berarti dia telah keluar dari Islam.
Ketiga dan Keempat: Kesyirikan dalam rububiyyah dan uluhiyyah

Keyakinan mereka bahwa setan-setan Merapi dan Pantai Selatan, seperti Kyai Sapu Jagat, Petruk dan Nyai Roro Kidul adalah pelindung-pelindung mereka, yang bisa memberikan manfaat dan juga menimpakan mudharat, adalah kesyirikan dalam rububiyyah.

Mereka juga mendekatkan diri (taqorrub) kepada setan-setan itu dengan berbagai upacara dan mempersembahkan berbagai macam bentuk ibadah, maka ini adalah kesyirikan dalam uluhiyyah, sebagaimana telah kami jelaskan secara singkat pada artikel sebelumnya yang berjudul, Renungan Musibah Merapi.
Kelima: Tidak melaksanakan shalat

Aliran Kebatinan atau Kejawen tidak mementingkan masalah shalat lima waktu, bagi mereka yang penting sudah eling maka itu cukup sebagai bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala. Ini adalah bentuk kekafiran kepada Allah Ta’ala, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

إن بين الرجل وبين الشرك، والكفر، ترك الصلاة

“Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu‘anhuma)

Permasalahan ini juga telah kami singgung dalam artikel yang berjudul, Keagungan Sholat dalam Islam.

Jika telah jelas bahwa ajaran Kejawen bukanlah ajaran Islam dan penganutnya bukan muslim, maka wajib bagi setiap muslim untuk berlepas diri (bara’) dari ajaran sesat ini dan penganutnya. Yaitu meyakini bahwa ajaran Kejawen adalah kekafiran kepada Allah Ta’ala dan menganggap bahwa penganutnya adalah orang-orang kafir.

Barangsiapa yang tidak mengkafirkan mereka atau malah membenarkan ajaran mereka atau sekedar ragu dengan kekafiran mereka maka dia juga kafir seperti mereka. Permasalahan ini telah kami bahas dalam ceramah yang berjudul, Pembatal-pembatal Keislaman.

Demikianlah ulasan ringkas tentang kekafiran ajaran Kebatinan atau Kejawen yang masih dianut oleh sebagian orang Jawa dan menganggapnya sebagai ajaran Islam. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.

Wallahu A’lam.

http://nasihatonline.wordpress.com/2010/11/10/musibah-merapi-menyingkap-kesesatan-aliran-kebatinan-kejawen/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.